Proses Perubahan Sikap Yang Tercermin Dalam Volunteer Griya Baca

oleh: Rezki Nur Anisa Septiyanti Putri

Berkuliah di jurusan Psikologi mengharuskan mahasiswa untuk melakukan kegiatan terjun langsung kelapangan dalam usaha untuk mempraktekkan apa yang telah mereka pelajari di kelas. Salah satu kegiatan terjun lapangan tersebut adalah volunteer. Volunteer sendiri adalah suatu kegiatan yang dilakukan secara sukarela yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan orang lain.

Di dalam volunteer membuat setiap individu yang mengikuti kegiatan volunteer untuk beriteraksi dengan orang banyak. Dari sinilah sikap setiap individu menentukan penilaian terhadap suatu objek maupun situasi tertentu. Banyak mahasiswa yang telah berpengalaman dalam hal volunteer sebelumnya, tapi banyak pula mahasiswa yang baru pertama kali ikut dalam kegiatan volunteer.

Tulisan ini akan membahas mengenai sikap para pengajar dalam kegiatan volunteer Griya Baca. Tujuan penelitian ini adalah untuk menunjukkan bahwa perilaku orang lain mempengaruhi sikap yang akan diberikan oleh seorang individu, yang tercermin dari kegiatan Volunteer di Griya Baca.

Data didapatkan dari observasi dan wawancara. Wawancara dilakukan untuk melengkapi data observasi yang telah dilakukan observer selama berkegiatan volunteer di Griya Baca. Wawancara dilakukan pada tempat dan waktu yang berbeda dengan setiap narasumbernya. Berdasarkan wawancara pada subjek didapatkan data sebagai berikut:

  1. Subjek 1

Narasumber mengatakan bahwa dia merasa senang ketika mendapatan tugas volunteer, walaupun masih ada perasaan bingung untuk menentukan lokasi Volunteer, narasumber juga masih bingung kegiatan apa yang akan dia lakukan ketika Volunteer. Ketika akhirnya narasumber bergabung dalam kegiatan Volunteer di Griya Baca (GB), dia mempunyai penilaian awal bahwa adik-adik binaan disana sangat welcome terhadap pengajar.

Adik-adik binaan dinilai juga cepat mengerti instruksi yang diberikan para pengajar, tapi ada kelemahan yaitu kadang adik-adik binaan fokusnya teralihkan dengan kendaraan yang berlalu-lalang, karena lokasinya yang berada di dekat jalan raya. Narasumber menyebutkan usaha mereka untuk mengembalikan fokus adik-adik binaan dengan kata-kata persuasi atau dengan diiming-imingi sesuatu. Narasumber tidak terlalu merasa terganggu dengan hilangnya fokus adik-adik, ia malah merasa tertantang dengan situasi tersebut, jadi narasumber semakin tertantang untuk mencari cara bagaimana mengembalikan fokus adik-adik tersebut.

Narasumber merasa motivasi sesama pengajar juga mempengaruhi motivasi narasumber sendiri. Untungnya sampai kegiatan volunteer ini selesai, pengajar lain mempunyai motivasi yang positif mereka cenderung bersemangat, jadi narasumberjuga ikut bersemangat. Kesan yang didapatkan narasumber dalam kegiatan ini adalah narasumber akhirnya bisa merasakan kegiatan mengajar yang berbeda dari yang lain, yaitu diadakan bukan di dalam kelas, jadi ada sensasi tersendiri dalam kegiatan ini.

 

  1. Subjek 2

Narasumber merasa senang dengan adanya kegiatan volunteer ini, karena ia menganggap kegiatan seperti ini bisa memberikan pengalaman secara langsung sekaligus bisa memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain. Narasumber berpikir bahwa anak Griya Baca akan malu-malu dan kuranga aktif, tapi seperti narasumber yang lain, setelah bertemu langsung dengan adik-adik binaan ternyata tidak seperti yang dipikirkan, walaupun ketika mengajari awalnya cukup susah, tapi setelah beberapa pertemuan selanjutnya malah berjalan dengan mudah. Untuk sesama volunteer, narasumber menilai kalau pengaruh satu sama lain sangat berperan penting, fungsinya untuk saling memotivasi dan memberi solusi hal-hal yang sulit untuk diatasi ketika mengajar.

  1. Subjek 3

Kesan pertama ketika mendapatkan tugas volunteer narasumber merasa tertarik karena memang narasumber adalah individu yang menyukai kegiatan turun lapangan. Tapi narasumber mengatakan bahwa ia kurang merasa nyaman di Griya Baca awalnya, karena ketidak cocokan sistem yang diberikan oleh pengurusnya. Tapi setelah berkegiatan langsung dengan adik-adik binaan narasumber merasakan perasaan senang karena dari sikap adik-adiknya sendiri sangat welcome dan mudah di ajak untuk kerja sama. Hal ini membuat penilaian narasumber berubah, dari yang sebelumnya mengira anak jalanan itu menutup diri, sekarang mulai berubah.

Kalau dari sesama pengajar, narasumber mengatakan bahwa ia tidak merasakan hal atau motivasi tertentu, maksudnya pengaruh pengajar lain tidak mempengaruhi motivasi dalam diri narasumber.

  1. Subjek 4

Ketika mendapatkan tugas volunteer narasumber menilai hal tersebut bagaikan peluang emas, dikarenakan memang sudah lama subjek ingin melakukan volunteer, tapi dia selalu disibukkan dengan acara organisasiny, jadi dikarenakan volunteer ini merupakan tugas kuliah jadi ada alasan yang kuat untuk melakukan volunteer. Sebelum melakukan volunteer di Griya Baca, narasumber megira adik-adik binaan akan berperilaku seperti anak punk, susa diatur dan semacamnya. Tapi kesan setelah bertemu ternyata adik-adik binaan jauh dari kata anak punk, gampang diatur ternyata adik-adik binaan GB. Masalah kecilnya adalah mereka cenderung moody , tapi hal ini malah menantang narasumer untuk lebih melatih sikap humanisnya.

Dari kasus yang diperoleh disesuaikan dengan teori yang mendukung didapatkan bahwa tingkah laku orang lain mempengaruhi sikap yang akan diberikan oleh seorang individu kepadanya. Dalam kegiatan Volunteer ini sesuai dengankesimpulan awal didapatkan hasil bahwa adanya perubahan sikap serta pandangan tentang anak binaan yang ada di Griya Baca, yaitu anak binaan Griya Baca yang dikira cuek dan pasif ternyata tidak persis seperti apa yang diperkirakan. Perubahan prasangka menjadi sikap yang positif ini dikarenakan adanya interaksi secara langsung.

Sesuai dengan tiga komponen pembentuk sikap, kegiatan volunteer di Griya Baca menunjukkan bahwa terdapat perubahan sikap pengajar atas adik-adik binaan, yang terbentuk dari tiga komponen tersebut. Pertama pada komponen kognitif yang berisi pemikiran serta ide-ide yang berkenaan dengan objek sikap, para pengajar (mahasiswa psikologi) awalnya mempunyai pemikiran mengenai adik-adik binaan Griya Baca (GB) hanya terdiri dari anak-anak jalanan saja, yang memiliki sikap cuek dan pasif, serta sulit untuk diatur. Pertama pada komponen afektif yang berisiperasaan atau emosi seseorang atas objek sikap, tercermin dari perilaku adik-adik binaan yang ternyata welcome dan selalu menuruti instruksi yang diberikan oleh pengajar, mengubah perasaan tidak senang pengajar menjadi perasaan senang. Ketiga pada komponen perilaku yang melalui respon subjek yang berkenaan dengan objek sikap, karena sikap adik binaan yang welcome sehingga mengubah perasaan para pengajar, maka sikap pengajar mulai berubah juga, pengajar menjadi termotivasi dalam mengajar.

Dalam teori pengkondisian instrumental (instrumental conditioning), yaitu proses dimana suatu tingkah laku akan dilakukan kembali ketika mendatangkan hasil yang menyenangkan bagi si pelaku, dan akan dihentikan ketika memberikan hasil yang tidak menyenangkan bagi si pelaku. Terdapat beberapa sikap yang berhasil dirubah. Pertama pada sikap pengajar, hal yang menyenangkannya berupa sikap welcome dan menurut dari adik-adik GB, maka hasilnya para pengajar semakin lebih giat dan termotivasi dalam mengajar adik-adik GB. Kedua pada sikap adik-adik GB, hal menyenangkannya berupa adanya hadiah bagi adik-adik yang dengan cepat dan tepat menyelesaikan perintah yang diberikan pengajar, membuat adik-adik semakin termotivasi untuk bersaing dalam menyelesaikan perintah yang diberikan pengajar.

Dalam teori belajar melalui pengamatan (observational learning) yaitu proses pembelajaran dengan mengamati perilaku orang lain, menyebabkan perubahan sikap. Sesuai dengan observasi yang dilakukan oleh peneliti bahwa adik-adik GB terlihat semakin bersemangat ketika pengajar juga berkata-kata dengan semangat. Misalnya dalam permainan outbond, beberapa pengajar memberikan contoh cara bermain dengan bersemangat, setelah gantian adik-adik yang diharuskan untuk bermain, mereka menirukannya dengan bersemangat pula.

Dalam teori perbandingan sosial (social comparison), yaitu proses membandingkan dengan tingkah laku orang lain mengenai apakah tingkah laku yang telah kita lakukan itu benar, didapatkan bahwa setiap pengajar dinilai memberikan pengaruh kepada pengajar lain. Tidak hanya dalam hal motivasi dan semangat, setiap pengajar akan melakukan evaluasi atas dirinya terhadap benar atau salah tindakan yang telah ia lakukan. Misalnya dengan bertanya ‘eh… cara mengerjakan ini seperti ini kan?’ atau ‘kalau aku bertanya seperti ini itu benarkan?’.

Perilaku Sosial Anak Jalanan dan Perilaku Sosial Anak Griya Baca

Oleh: Marisa Shinta Triyanti

 

Fenomena masalah anak jalanan merupakan isu global yang telah mencapai titik mengkhawatirkan. Situasi anak jalan di Indonesia cukup memprihatinkan  karena sampai saat ini masalah-masalah anak khususnya pada anak-anak yang berada di jalanan belum mendapat perhatian yang serius dari pemerintah. Begitu juga di Malang, banyak anak jalanan belum mendapatkan perhatian yang serius oleh pemerintah Kota Malang. Jumlah anak yang tinggal di jalanan terus menerus meningkat dan pemerintah pun tidak mempunyai data anak yang tinggal di jalanan. anak jalanan merupakan seseorang yang masih belum dewasa (secara fisik dan phsykis) yang menghabiskan sebagian besar waktunya di jalanan dengan melakukan kegiatan-kegiatan untuk mendapatkan uang guna mempertahankan hidupnya yang terkadang mendapat tekanan fisik atau mental dari lingkunganya. Dalam buku “Intervensi Psikososial” (Depsos, 2001:20), anak jalanan adalah anak yang sebagian besar menghabiskan waktunya untuk mencari nafkah atau berkeliaran di jalanan atau tempat-tempat umum lainnya.

Anak jalanan perlu memperoleh perhatian dari semua jajaran masyarakat. Barangkali yang lebih perlu diperhatikan adalah anak jalanan yang muncul dengan terpaksa karena mereka ini pada hakekatnya kehilangan hak secra fisik, psikologis, ekonomi dan perilaku sosialnya. Perilaku sosial anak sangat dipengaruhi oleh tempat dia tinggal atau bergaul. Perilaku  anak jalanan selalu berada dalam situasi rentan dalam segi perkembangan fisik, mental, sosial bahkan nyawa mereka. Melalui stimulasi tindakan kekerasan terus menerus, terbentuk sebuah nilai-nilai baru yang cenderung mengedepankan kekerasan sebagai cara untuk mempertahakan hidup. Disamping itu anak jalanan dengan keunikan kerangka budayanya, memiliki tindak komunikasi yang berbeda dengan anak yang normal. komunikasi intra budaya anak jalanan dapat menjelaskan tentang proses, pola, perilaku, gaya, dan bahasa yang digunakan mereka. aspek-aspek tersbut tampak manakala berkomunikasi sesama teman, keluarga, petugas keamanan dan ketertiban, pengurus rumah singgah, dan lembaga pemerintah. Anak jalanan yang sudah terbiasa dalam lingkungan rumah singgah dan anak jalanan yang “liar”, memiliki perilaku yang berbeda dan komunikasi yang berbeda.

Perilaku sosial anak jalanan yang diketnal dan diketahui oleh masyarakat yaitu tidak baik, karena perubahan sikap, cara komunikasi yang kasar, memaksa, brutal, tata cara bicara yang  buruk, gaya bahasa, pakaian yang tidak rapi, rambut yang di warnai membuat masyarakat tidak senang dengan anak jalanan. Adapun perbedaan perilaku sosial pada anak jalanan yang mengikuti kegiatan Griya Baca atau yang bernaung di Griya Baca.

Anak jalanan terkenal dan dianggap oleh kalangan masyarakat mengedepankan kekerasan sebagai cara untuk mempertahakan hidup. Disamping itu anak jalanan dengan keunikan kerangka budayanya, memiliki tindak komunikasi yang berbeda dengan anak yang normal. komunikasi intra budaya anak jalanan dapat menjelaskan tentang proses, pola, perilaku, gaya, dan bahasa yang digunakan mereka. aspek-aspek tersbut tampak manakala berkomunikasi sesama teman, keluarga, petugas keamanan dan ketertiban, pengurus rumah singgah, dan lembaga pemerintah. Anak jalanan yang sudah terbiasa dalam lingkungan rumah singgah dan anak jalanan yang “liar”, memiliki perilaku yang berbeda dan komunikasi yang berbeda. Perilaku sosial anak jalanan yang diketnal dan diketahui oleh masyarakat yaitu tidak baik, karena perubahan sikap, cara komunikasi yang kasar, memaksa, brutal, tata cara bicara yang  buruk, gaya bahasa, pakaian yang tidak rapi, rambut yang di warnai membuat masyarakat tidak senang dengan anak jalanan.

Perilaku sosial anak Griya Baca yang terdapat anak jalanannya, tidak adanya kekerasan (hanya bercanda saja diantara anak-anak Griya Baca yang tidak menimbulkan masalah yang serius), gaya bicara mereka juga lebih sopan, tidak kasar, berpakainya rapi dan terkadang anak-anak Griya Baca mengenakan pakaian atau seragam dari Griya Baca, rambut mereka juga tidak ada yang diwarnai dan lain sebagainya. Hal tersebut dapat dilihat juga dari hasil wawancara dengan salah satu Volunteer yang menjadi sukarelawan dalam memberikan ilmu atau berbagi dengan anak-anak Griya Baca. Jadi, di Griya Baca mereka diberikan pengertian dan pelatihan agar tidak terseret kedalam kehidupan/lingkungan anak jalanan yang terkenal di mata/kalangan masyarakat, untuk lebih semangat dan teratur dalam menjalani hidup mereka. Mereka diajarkan untuk mengaji, belajar bersama mata pelajaran sekolah atau hal apapun, belajar untuk saling membantu dan berbagi antar satu sama lainnya, soft skill mereka diasah dan diajarkan bagi yang belum bisa seperti bermain musik, bernyanyi, menari, membuat kerajinan tangan, belajar memandu sebuah acara karena di Griya Baca sendiri sering mengadakan acara/kegiatan misalnya bakti sosial, dan lain sebagainya. Soft skill/kemampuan mereka itu lah yang mereka tampilkan jika menggelar/ada sebuah acara. Jadi lingkungan, bimbingan dan pendekatan yang tepat sangat berpengaruh pada proses pembetukan perilaku sosial individu.

SAVE YOUR CHILDREN “Menjaga Anak-Anak dari Kekerasan Seksual”

Oleh:

Melda Cristianty – Nindita Amadea – Reika Azil Aryani – Rahma Diana Putri

 

LATAR BELAKANG

Anak merupakan dasar awal yang menentukan kehidupan suatu bangsa dimasa yang akan datang, sehingga diperlukan persiapan generasi penerus bangsa dengan mempersiapkan anak untuk tumbuh dan berkembang secara optimal baik dalam perkembangan moral, fisik/motorik, kognitif, bahasa, maupun sosial emosional. Setiap anak berhak untuk mendapatkan penghidupan dan perlindungan yang layak, serta dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.

      Menurut Kementrian Dalam Negeri, dalam UU nomor 23 tahun 2002 pasal 4 mengenai Perlindungan Anak, yaitu setiap anak berhak untuk dapat hidup, tumbuh, berkembang dan berpartisipasi secara wajar sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Adanya perlindungan dimaksudkan untuk melindungi anak yang tereksploitasi secara ekonomi, seksual, anak yang diperdagangkan, anak yang menjadi korban penyalahgunaan narkotika, alkohol, psikotropika dan zat adiktif lainnya, anak korban penculikan, penjualan dan perdagangan, anak korban kekerasan seksual, anak korban kekerasan fisik/mental, anak penyandang cacat, dan anak korban penelantaran (Handini, 2013).

Akhir-akhir ini terdapat berbagai fenomena perilaku negatif terlihat dalam kehidupan sehari-hari pada anak-anak. Melalui surat kabar atau televisi dapat dijumpai kasus-kasus anak usia dini seperti kekerasan baik itu kekerasan fisik, verbal, mental bahkan pelecehan atau kekerasan seksual juga sudah menimpa anak-anak. Bentuk kekerasan seperti ini biasanya dilakukan oleh orang yang telah dikenal anak, seperti keluarga, ayah kandung, ayah tiri, paman, tetangga, guru maupun teman sepermainannya sendiri (Handini, 2013) .

Menurut Kompasiana (2013) data Komnas Perlindungan Anak pada tahun 2010, di Indonesia telah diterima laporan kekerasan pada anak mencapai 2.046 kasus, laporan kekerasan pada tahun 2011 naik menjadi 2.462 kasus, pada tahun 2012 naik lagi menjadi 2.629 kasus dan melonjak tinggi pada tahun 2013 tercatat ada 1.032 kasus kekerasan pada anak yang terdiri dari: kekerasan fisik 290 kasus (28%), kekerasan psikis 207 (20%), kekerasan seksual 535 kasus (52%). Sedangkan dalam tiga bulan pertama pada tahun 2014 ini, Komnas perlindungan anak telah menerima 252 laporan kekerasan pada anak. Jadi, menurut Komnas perlindungan anak bahwa laporan kekerasan pada anak didominasi oleh kejahatan seksual dari tahun 2010-2014 yang berkisar 42-62% (Kompasiana, 2014). Dari data tersebut terlihat bahwa kasus mengenai kekerasan pada anak meningkat setiap tahunnya. Terlebih mengenai kasus pelecehan seksual yang mendominasi.

Menurut Rahmawati (2014) bahwa, pelecehan seksual terhadap anak adalah suatu bentuk penyiksaan anak di mana orang dewasa atau remaja yang lebih tua menggunakan anak untuk rangsangan seksual. Bentuk pelecehan seksual anak termasuk meminta anak atau menekan seorang anak untuk melakukan aktivitas seksual, memberikan paparan yang tidak senonoh dari alat kelamin untuk anak, menampilkan pornografi untuk anak, melakukan hubungan seksual terhadap anak-anak, kontak fisik dengan alat kelamin anak (kecuali dalam konteks non-seksual tertentu seperti pemeriksaan medis), atau menggunakan anak untuk memproduksi pornografi anak.

Dewasa ini, banyak hal yang masih dianggap tabu di Indonesia. Tidak sedikit juga di luar sana yang menganggap hal tabu ini adalah suatu hal yang sangatlah penting dan tidak untuk dilanggar (Lisdiya, 2013). Pengetahuan adalah hal terpenting yang di butuhkan masyarakat Indonesia dan kurangnya pengetahuan inilah yang menyebabkan timbulnya kekerasan seksual semakin meningkat di Indonesia. Tak hanya itu, kurangnya perhatian orang tua terhadap anak juga dapat menimbulkan semakin banyaknya anak yang menjadi korban kekerasan seksual.

Menurut Lisdiya (2013) bahwa, anak perlu untuk diberikan pemahaman oleh orangtua mengenai sex education. Sehingga melalui sex education ini diharapkan dapat tercapainya tujuan dalam menjaga keselamatan, kesucian, dan kehormatan anak ditengah masyarakat. Cara penyampaiannya tentu harus disesuaikan kehidupan masyarakat Indonesia yang berlandaskan agama dan tata krama, sehingga anak didik baik laki-laki maupun perempuan dapat terjaga akhlak dan agamanya hingga jenjang keluarga sekalipun. Selain itu, keluarga dan masyarakat juga memiliki pengaruh besar terkait sex education sebagai pihak pemberi informasi dan teladan, keluarga sebagai lingkungan terdekat anak didik harus siap dengan berbagai pertanyaan dengan jawaban yang benar, dan tidak membiarkan rasa ingin tahu mereka dijawab oleh teman atau media yang belum tentu sesuai untuk usia mereka. Keluarga menjadi pengawas bagi anak dalam mengontrol musik yang didengar, televisi yang ditonton, majalah yang dibaca, serta pakaian yang dikenakan.

Sebagai anak, mereka membutuhkan peran orang tua yang sesuai untuk menghindari terjadinya pelecehan seksual. Peran orang tua yang selalu terbuka terhadap anaknya adalah sesuatu yang dibutuhkan anak. Orangtua harus sudah mulai menerapkan pengetahuan-pengetahuan tentang seksualitas kepada anaknya tetapi sesuai dengan umur dan metode yang tepat serta sebagai orangtua, harus dapat membantu mereka untuk membuat karakter pribadi yang kuat untuk sang anak, karena itu adalah bekal pribadi yang bisa digunakan kelak. Pentingnya peran orang tua dalam sebuah keluarga itu sangat di perlukan serta adanya keterbukaan terhadap sang anak itu akan sangat membantu dalam psikologis keluarga (Handini, 2013).

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka perlu untuk melakukan intervensi mengenai Save Your Children untuk diberikan kepada ibu-ibu, sehingga anak dapat mengetahui apa yang seharusnya dilakukan untuk menjaga anak-anak dari pelecehan seksual yang marak terjadi.  Hasil penelitian jurnal Ambarwati (2013) dalam penelitianya yang membahas tentang Peran Ibu dalam Penerapan Pendidikan Seksualitas pada Anak Usia Pra Sekolah (di TK SBI Kroyo, Karangmalang, Sragen) bahwa, permasalahan yang terjadi dalam pendidikan seksualitas pada anak adalah orang tua dalam  hal ini ibu masih sungkan berbicara tentang hal yang berkaitan dengan seksualitas kepada anak-anaknya, menganggap hal itu tabu dan belum perlu diberikan kepada anak-anak sejak dini.

A. NAMA KEGIATAN

Sosialisasi Intervensi Save Your Children “Menjaga Anak-Anak dari Kekerasan Seksual”.

B. TUJUAN

  1. Untuk mengetahui pengertian seksualitas.
  2. Untuk mengetahui pelaku pelecehan seksual.
  3. Untuk mengetahui sasaran diberikannya cara pencegahan pelecehan seksual.
  4. Untuk mengetahui cara yang dapat dilakukan untuk pencegahan pelecehan seksual.
  5. Untuk mengetahui cara menjaga anak-anak agar jauh dari pelecehan seksual.
  6. Untuk mengetahui ciri-ciri yang ditampilkan anak yang telah mengalami pelecehan seksual.
  7. Untuk mengetahui proses perubahan sikap yang terjadi pada orangtua mengenai masalah yang terjadi.

 C. SASARAN

Kegiatan sosialisasi ini mengikutsertakan ibu-ibu yang tergabung dalam komunitas PKK sebanyak 20 orang.

 D. LOKASI KEGIATAN

Lokasi penelitian merupakan tempat dimana peneliti dapat melakukan intervensi dengan judul Save Your Children mengenai menjaga anak-anak dari pelecehan seksual, yang betempat di Jalan Jaksa Agung Suprapto, Rampal Celaket, Klojen, Malang

 E. BENTUK KEGIATAN

Acara ini bersifat kekeluargaan dan kebersamaan, dimana di dalamnya akan diselingi ice breaking berupa game, untuk mencegah kejenuhan. Kegiatan pengabdian masyarakat ini akan dilakukan dengan metode:

  1. Ceramah
  2. Tanya jawab
  3. Diskusi
  4. Pemecahan masalah perkasus

 

Hasil Intervensi

      Pelaksanaan intervensi mengenai “Save Your Childrenyang dilaksanakan pada tanggal 08 Mei 2016 berjalan dengan lancar. Hasil analisis pengaruh intervensi pendidikan seksual terhadap pengetahuan dan sikap ibu-ibu PKK menunjukkan adanya peningkatan signifikan antara pengetahuan sebelum dan sesudah diberikan penyuluhan serta sikap sebelum dan sesudah diberikan penyuluhan. Hal ini berarti bahwa terdapat pengaruh intervensi terhadap pengetahuan dan sikap ibu-ibu PKK, mengenai tindak kekerasan seksual yang terjadi pada anak usia dini.

Sebelum materi di berikan, pemateri melakukan interaksi dengan ibu-ibu tersebut dengan mengajukan pertanyaan seputar kekerasan seksual yang terjadi pada anak-anak. Mereka menunjukkan respon awam dan tidak mengerti mengenai pembahasan materi tersebut. Setelah di berikannya sosialisasi dan fakta yang terjadi, akhirnya mereka lebih merespon secara positif dan mengevaluasi kejadian-kejadian yang ada disekitarnya secara lebih kritis. Menurut Hanurawan (2007), fungsi pengetahuan berarti bahwa sikap membantu seseorang menetapkan standar evaluasi terhadap sesuatu hal. Standar itu menggambarkan keteraturan, kejelasan, dan stabilitas kerangka acuan pribadi seseoarang dalam menghadapi objek atau peristiwa disekelilingnya.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Benita (2012) yang menyatakan bahwa terdapat peningkatan pengetahuan yang bermakna setelah dilakukan penyuluhan tentang kekerasan seksualitas pada anak usia dini. Hal ini menunjukan bahwa penyuluhan sangat berpengaruh terhadap peningkatan pengetahuan. Peningkatan pengetahuan tentang kekerasan seksual pada anak usia dini menunjukkan bahwa penyuluhan memberikan pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan pengetahuan ibu-ibu PKK tentang kekerasan seksual yang terjadi, hal ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor yaitu :

  1. Penerima materi

Dalam penelitian ini materi yang diberikan disesuaikan dengan sasaran  dan jumlah penerima materi, yaitu ibu-ibu PKK.

  1. Metode pemberian materi,

Dalam penelitian ini menggunakan metode seminar dimana peneliti menjelaskan dan menerangkan suatu informasi terkait fakta mengenai kekerasan seksual yang terjadi pada anak usia dini, secara lisan dan secara dua arah. Hal ini sejalan dengan Notoatmodjo (2007) yang menyatakan bahwa kelompok besar adalah apabila peserta penyuluhan lebih dari 15 orang. Metode yang baik untuk kelompok besar ini adalah seminar, panel dan ceramah.

  1. Pembawa materi

Pembawa materi memegang peranan penting dalam keberhasilan suatu penyuluhan. Pembawa materi dituntut untuk mampu menguasai materi yang akan diberikan serta lebih komunikatif dalam menyampaikan pesan penyuluhan agar lebih mudah dipahami dan ditangkap oleh sasaran penyuluhan serta menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh target penyuluhan dengan mempertimbangkan tingkat pendidikan penerima materi penyuluhan.

  1. Materi yang diberikan.

Materi yang diberikan dalam penyuluhan dituntut agar mudah dipahami oleh ibu-ibu PKK . Materi penyuluhan menggunakan bahasa yang disesuaikan dengan sasaran penyuluhan sehingga pesan yang disampaikan dapat dipahami dan dimengerti.

Hasil penelitian menunjukan bahwa pada ibu-ibu PKK terjadi perubahan sikap sebelum dan sesudah diberikan penyuluhan. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Rahayu (2013) yang menyimpulkan bahwa penyuluhan memberikan pengaruh yang signifikan terhadap perubahan sikap responden. Menurut Hanurawan (2007) proses perubahan sikap tersebut terjadi karena adanya Intergrasi dimana, pembentukan sikap disini terjadi secara bertahap, dimulai dengan berbagai pengalaman yang berhubungan dengan satu hal tentu sehingga akhirnya terbentuk sikap menegenal hal tersebut.

Hal ini menunjukan bahwa selain terjadi peningkatan pengetahuan juga terjadi peningkatan sikap melalui penyuluhan. Kedua hal tersebut terbukti dengan adanya pengisian kuesioner dan proses tanya jawab yang dilakukan selama intervensi dilakukan. Hal ini dapat disebabkan oleh faktor-faktor yang mempengaruhi sikap seseorang diantaranya adalah faktor yang berhubungan dengan kepercayaan dan keyakinan. Menurut (Manstead, 1996; Strickland, 2001) terdapat 3 komponen dalam proses pembentukan sikap :

  1. Komponen Respons Evaluatif Kognitif

Pengaruh sosialisasi yang terjadi pada ibu-ibu PKK dari hasil intervensi yang dilakukan memberikan gambaran tentang cara seseorang dalam mempersepsi objek, peristiwa atau situasi sebagai sasaran sikap. Komponen ini adalah pikiran, keyakinan atau ide seseorang tentang suatu objek. Dalam bentuk yang paling sederhana, komponen kognitif adalah kategori-kategori yang digunakan dalam berpikir. Informasi yang diterima dari intervensi dan sosialisasi yang dilakukan masuk ke dalam otak manusia, melalui proses analisis, sintesis, dan evaluasi akan menghasilkan nilai baru yang akan diakomodasi atau diasimilasikan dengan pengetahuan yang telah ada di dalam otak manusia. Nilai – nilai baru yang diyakini benar, baik, indah, dan sebagainya, pada akhirnya akan mempengaruhi emosi atau komponen afektif dari sikap individu.

  1. Komponen respons evaluatif afektif

Adalah perasaan atau emosi yang dihubungkan dengan suatu objek sikap. Perasaan atau emosi meliputi kecemasan, kasihan, benci, marah, cemburu,atau suka. Pada kasus kekerasan seksual yang terjadi pada anak usia dini memberikan respon evaluatif afektif berupa kecemasan, takut dan waspada untuk lebih menjaga anak-anaknya.

  1. Komponen respons evaluatif perilaku

Adalah tendensi untuk berperilaku pada cara-cara tertentu terhadap objek sikap. Dalam hal ini, tekanan lebih pada tendensi untuk berperilaku dan bukan pada perilaku secara terbuka. Pada kasus kekerasan seksual yang terjadi pada anak usia dini memberikan respon evaluatif perilaku berupa tindakan-tindakan yang dapat dilakukan ibu untuk mengajari anak untuk menjauhi pelecehan seksual. Antara lain :

  • Mengingat nama-nama bagian tubuh. konsep bagian tubuh pribadi yang tidak boleh dipegang sembarang orang
  • Perbedaan antara sentuhan aman dan sentuhan tidak aman
  • Mengajarkan bahwa mungkin saja ada orang yang dekat dengan anak yang mencoba menyakiti
  • Menjelaskan pada anak bahwa pelecehan seksual bukanlah tanggungjawab si anak melainkan adalah tanggungjawab pelaku yang telah melakukan kejahatan pada anak.
  • Mengembangkan kemampuannya dalam menghindari dan mencegah pelecehan seksual
  • Mengajak anak yang mengalami pelecehan seksual untuk membuat laporan hukum.
  • Ajari anak bahwa jika anak mau terbuka mencari bantuan untuk mengatasi pelecehan seksual yang dialaminya, maka orangtua akan mendukung dan percaya pada anak.

DAFTAR PUSTAKA

 

Ambarwati, Retno. 2013. Peran Ibu dalam Penerapan Pendidikan Seksualitas       pada    Anak Usia Pra Sekolah (di TK SBI Kroyo, Karangmalang,          Sragen). PROSIDING KONFERENSI NASIONAL PPNI: JAWA             TENGAH.

Benita, Rena N. 2012. Pengaruh Penyuluhan Terhadap Tingkat Pengetahuan        Kesehatan       Reproduksi pada Remaja Siswa SMP Kristen Gergaji. Universitas Diponegoro.

Hanurawan, Fattah. 2007. Pengantar Psikologi Sosial. Malang: Fakultas Ilmu        Pendidikan Universitas Negeri Malang.

Kompasiana. 2013. Darurat Nasional: Eksploitasi Seksual Anak. diakses pada http://regional.kompasiana.com/2013/07/24/darurat-nasional-eksploitasi-    seksual-anak–579268.html (diakses pada tanggal 12 April 2016 pada      pukul   09.16 WIB).

Lisdiya, N. 2013, sex education untuk-anak-anak, why not? Diakses dari              http://sisimikro.blogspot.com/2013/01/sex-education-untuk-anak-anak-       why-    not.html pada tanggal 28 Maret 2016  pada pukul 16.15 WIB.

 

“Socialization of How to Increase Helping Behavior” pada Anak Asuh di Panti Asuhan Muhammadiyah Malang

Oleh:

Marisa Shinta Triyanti  – M. Ikhsan  – Nur Wahyuni – Restu Putri Friandini

Latar Belakang
Manusia  sebagai  makhluk  sosial  merupakan  makhluk  yang  tidak  dapat terpisahkan  oleh  adanya  kehadiran  orang  lain.  Individu  akan  membutuhkan individu  lainnya  untuk  mencukupi  kebutuhan  pada  dirinya.  Saling berinteraksi  satu  sama  lain  adalah  hal  yang  pasti  dilakukan  manusia,  entah dalam bekerja atau yang lainnya. Pada kebanyakan masyarakat dalam proses kehidupan  tentunya  akan  banyak  melakukan  perilaku  yang  berhubungan dengan  orang  lain  pula.  “Perilaku  tersebut  dilakukan  untuk  memenuhi kebutuhannya sendiri ataupun kebutuhan orang lain”  (Taylor dkk, 2009).
Membahas  persoalan  yang  behubungan  dengan  kata  perilaku,  akan banyak  sekali  hal  yang  terlintas  dan  terbayangkan.  Dalam  hal  ini  tentunya berhubungan  dengan  perilaku  yang  dimunculkan  oleh  individu,  seperti perilaku  adaptif.  Pada  pembahasan  kali  ini  akan  banyak  dibahas  mengenai perilaku menolong dalam diri individu.  Dalam kehidupan sehari-hari banyak sekali individu  yang berperilaku menolong pada individu lainnya.  Sehingga perilaku menolong akan banyak kita jumpai pula di manapun, kapanpun, dan dalam kondisi apapun.
Menurut  McGuire  1994  dalam  (Taylor,.  dkk,  2009).  Banyak  sekali contoh  perilaku  menolong  yang  tentunya  dapat  ditemui  dalam  kehidupan setiap hari. Perilaku menolong dari pertolongan  yang  sederhana,  pertolongan substansial,  pertolongan  emosional,  dan  pertolongan  darurat.  Contohnya seperti  memberikan  petunjuk  arah  kepada  orang  yang  bertanya  dan  merasa
kebingungan di jalan, memberikan pinjaman uang, mendengarkan orang yang sedang bercerita tentang masalahnya, dan mendorong mobil yang mogok.
Menurut Taylor,  dkk  (2009:  457)  Perilaku menolong dalam pembahasan psikologi  sosial  akan  terbagi  menjadi  dua  tipe  aksi.  Dua  tipe  aksi  tersebut adalah  altruism  atau  altruisme  dan  prosocial  behavior  (perilaku  prososial). Altruism adalah tindakan sukarela untuk membantu orang lain tanpa pamrih, atau  ingin  sekedar  beramal  baik  (Taylor,.  dkk,  2009).  Juga  dijelaskan  oleh
Batson,  (1998)  dalam  (Taylor,.  dkk,  2009)  Perilaku prososial adalah kategori yang  lebih  luas.  Tindakan  prososial  ini  mencakup  setiap  tindakan  yang membantu atau dirancang untuk membantu orang lain, terlepas dari motif sipenolong. Terdapat  perbedaan  antara  altruism  dengan  perilaku  prososial.  Perilaku prososial  bisa  saja  dimulai  dari  altruism  (tindakan  tanpa  pamrih)  hingga
tindakan yang dimotivasi oleh pamrih atau bahkan oleh kepentingan pribadi individu  tersebut.  Perilaku  prososial  ini  dalam  kenyataannya  akan  banyak dipengaruhi  oleh  tipe  relasi  setiap  orang.  Mungkin  seseorang  melakukan tindakan  menolong  karena  suka  dengan  orang  yang  akan  ditolong,  merasa menolong saat itu adalah suatu kewajiban, atau menginginkan imbalan uang.
Seorang  individu  dalam  berbagai  usia  dan  tempat  akan  merasakan perilaku  menolong  atau  ditolong,  tak  terkecuali  dengan  anak-anak  panti asuhan.  Gospor Nabor (Bardawi Barzan, 1999:5) menjelaskan bahwa: “Panti asuhan adalah suatu lembaga pelayanan sosial yang didirikan oleh pemerintah maupun  masyarakat,  yang  bertujuan   untuk  membantu   atau  memberikan bantuan  terhadap  individu,  kelompok  masyarakat  dalam  upaya  memenuhi kebutuhan hidup”. Dari penjelasan diatas dapat diketahui bahwa panti asuhan merupakan  suatu  tempat  dimana  terdapat  sekelompok  orang  yang  sedang berusaha mewujudkan kebutuhan hidupnya. Kebanyakan anak yang tinggal di panti  asuhan adalah anak yatim/piatu  atau bahkan anak yang orangtuanya tak
mampu  lagi  membiayai  hidupnya.  Panti  asuhan  didirikan  agar  anak-anak seperti yang telah dijelaskan sebelumnya dapat tetap bertahan dengan adanya program di panti asuhan.
Terdapat  banyak  rentangan  usia  dan  juga  karakteristik  mengenai  anakanak  di  panti  asuhan.  Dan  tentunya  akan  banyak  perilaku  yang  muncul  di dalam  panti  asuhan  tersebut.  Di  panti  asuhan  biasanya  akan  banyak  jadwal yang  sengaja  dibuat  pengurus  atau  pengasuh  kepada  anak  asuhnya. Banyaknya kegiatan tersebut bertujuan agar anak panti bisa tetap fokus dalam pembelajaran  dan  bisa  menjadi  kader  penerus  kesejahteraan  bangsa  tanpa adanya  fokus  lain  seperti  bermain  ponsel,  malas-malasan,  atau  bahkan pacaran.  Namun  sayangnya,  padatnya  kegiatan  yang  telah  dibuat  tersebut mengurangi  interaksi  individu  satu  dengan  yang  lain  secara  intens.  Hal  ini mengakibatkan  juga  pada  perilaku  menolong  anak-anak  di  dalam  panti asuhan, dikutip dari ucapan pengasuh panti asuhan (Aziz, 2016).
Menurut data observasi dan wawancara kepada pihak panti,  banyak anak acuh  tak  acuh  terhadap  kegiatan  atau  kebutuhan  dan  kesulitan  temannya, karena  dia  lebih  fokus  pada  dirinya  sendiri.  Tidak  mungkin  memang,  jika seseorang  tidak  melakukan  pertolongan  sekalipun  dalam  sehari.  Namun dalam  panti  asuhan  akan  banyak  kegiatan  menolong  yang  sifatnya  karena
pamrih,  misal  karena  diperintah  atau  dituntut  oleh  pengasuh  untuk  saling membantu satu dengan yang lain.  Disamping itu, anak-anak panti asuhan ini menganggap  bahwa  tanggung  jawab,  masalah  ataupun  kesulitan  individu harus di kerjakan dan diselesaikan oleh individu tersebut. Kurangnya empati serta ketidak acuhan juga menjadi salah satu faktor kurang  dimunculkannya
perilaku  menolong  di  panti  asuhan  ini.  Anak  panti  hanya  akan  menolong ketika pihak pengasuh atau pengurus panti menyuruh dan memintanya secara langsung.
Dari  penjabaran  diatas  maka  peneliti  melakukan  sebuah  kegiatan  yang bernama“Socialization of How to Increase Helping Behavior”.  Socialization of How to Increase Helping Behavior merupakan suatu cara atau metode yang digunakan  untuk  mengingkatkan  perilaku  menolong.  Metode  dilaksanakan dengan cara mensosialisasikan kepada anak-anak panti asuhan, dimana cara mensosialisasikannya ini dengan bentuk seperti seminar namun santai. Isi dari sosialisasi  ini  mengenai pentingnya berperilaku menolong antar sesama serta dalam hal ini sesama anggota panti  asuhan. Sesuai dengan tema, sosialisasi ini dimaksudkan untuk menambah dimunculkannya perilaku menolong pada anak  panti  asuhan.  Nantinya  dalam  sosialisasi  anak  panti  akan  disuguhkan
mengenai  materi-materi  yang  berhubungan  dengan  perilaku  menolong  serta anak  panti  akan  diberikan  stimulus  tertentu  untuk  dapat  benar-benar berperilaku tersebut.
Dalam kegiatan ini kami tidak  hanya melakukan sosialisasi saja namun juga  memberikan  suatu  kartu  kontrol  kepada  anak  panti  mengenai  kegiatan menolong  yang  seperti  apa  dengan  objek  siapa  serta  termasuk  perilaku prososial atau altruism.  Kartu kontrol ini akan dilaksanakan atau dijalankan selama  satu  minggu  lamanya  oleh  anak  panti  asuhan.  Setelah  satu  minggu kartu kontrol itu berjalan akan kami tarik kembali dari anak-anak panti dan kami  akan  mewawancarai  beberepa  anak  panti  untuk  menjelaskan berdasarkan  perspektifnya  mengenai  perilaku  menolong  yang  telah dilakukannya.

A.  Nama Kegiatan/Produk
Kegiatan  ini  diberi  nama  “Socialization  of  How  to  Increase  Helping Behavior”.
B.  Tujuan
Kegiatan ini bertujuan untuk memberi tahu dan menjelaskan kepada anak asuh  di  panti  asuhan  Muhammadiyah  jalan  Bareng  kota  Malang  mengenai perilaku menolong. Sehingga nantinya anak asuh dapat memahami mengenai aksud  dari  altruism  atau  perilaku  prososial  serta  nantinya  mereka  akan mengerti  selama  ini  kecenderungan  pada  dirinya  berada  pada  altruism  atau
perilaku prososial.Pada  kegiatan  ini  fokus/sasaran/subyek  adalah  anak  usia  12-15  tahun yang  masih  dalam  tahap/masa  remaja  menurut  tahap  perkembangan  yang dikemukakan  oleh  Erik  Erikson.  Masa  remaja  merupakan  masa  dimana individu  mulai  memahami  dan  mengembangkan  kehidupan  bermasyarakat. Santrock (2003: 26) bahwa adolescene diartikan sebagai masa perkembangan transisi  antara  masa  anak  dan  masa  dewasa  yang  mencakup  perubahan biologis, kognitif, dan sosial-emosional.
Jadi, ini diharapkan dapat meningkatkan perilaku menolong pada remaja, sasaran/subyek  diharapkan  dapat  melakukannya  dengan  tanpa  pamrih  atau mengharapkan  imbalan/reward  dari  orang  lain  dan  dapat  berlanjut  ke masa/tahapan  selanjutnya  yaitu  dewasa  dan  seterusnya.  Dan  memberitahu kepada mereka pentingnya atau dampak dari melakukan perilaku menolong, serta memberitahukan kepada mereka mengenai kategori perilaku menolong dan positif serta negatifnya dari masing-masing kategori tersebut.
C.  Sasaran/Subjek
Sasaran/  subyek  dari  kegiatan  ini  adalah  Anak  usia  12-15  tahun  (di jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP)) di Panti Asuhan (bagi anak lakilaki) Jl. Kawi/ Bareng Tenes IV-A/ 637.
D.  Produk
Kegiatan  ini  dilakukan  1  kali,  namun  untuk  perkembangannya  akan dilihat  selama  1  minggu.  Untuk  minggu  pertama  kegiatan  yang  dilakukan adalah   mengenai  poster  yang  telah  dibuat  mengenai  pentingnya  altruisme atau  perilaku  prososial  yaitu  menolong  itu  dilakukan  tanpa  mengharapan imbalan/reward dari orang  lain. Subyek dikumpulkan dalam sebuah ruangan dan salah satu dari kami akan menjelaskan mengenai poster tersebut. Apa isi dari poster tersebut, tujuan dari dibuatnya poster tersebut dan perilaku  yang diharapkan  muncul  setelah  penjelasan  dari  poster.  Selain  poster,  kita  juga akan  membuat  selembaran  (poster  berukuran  lebih  kecil)  untuk  ditempel  di dinding  pada  sisi-sisi  panti  asuhan  yang  terlihat  oleh  anak-anak  agar  dapat
menjadi pengingat bagi  anak-anak dan dapat memberikan pengetahuan  atau menghimbau  anak-anak  selain  sasaran/subyek  untuk  juga  dapat  dilihat  dan dilakukan.
Setelah  /penjelasan  poster  kami  akan  membagikan  selembaran  yang bertujuan untuk mengetahui perilaku menolong apa yang telah dilakukan oleh sasaran/subyek  lainnya  (teman  subyek)  setelah  mengikuti  /mendengarkan penjelasan  mengenai  poster  tersebut.  Selembaran  itu  akan dibagikan  kepada  sasaran/subyek  masing-masing  satu  lembar  yang  akan
dibawa  selama  satu  minggu  ke  depan  dari  minggu  .  Selama  satu  minggu, selembaran  tersebut  hanya  akan  dilihat  dan  dipegang  oleh  sasaran/subyek.
Hanya  anak  itu  yang  dapat  melihat  selembaran  miliknya,  hal  tersebut bertujuan agar tidak ada dorongan/pengaruh dari orang lain jika mereka dapat melihat selembaran milik anak lain. Misal, subyek A  telah menolong orang lain  sebanyak  3  kali,  sedangkan  subyek  B  telah  menolong  orang  lain sebanyak hanya 1 kali.  Karena merasa tertinggal jauh maka subyek  B akan menolong  orang  lain  dengan  harapan  isi  dari  selembaran  tersebut  setara dengan  milik  subyek  A.  Seminggu  setelah   atau  penjelasan  poster,  kami  ke panti  asuhan  dan  sasaran/subyek  harus  mengembalikan  selembaran  yang diberikan dan kami akan melakukan wawancara kepada sasaran/subyek atau pengasuh  mereka.  Untuk  mengetahui  mengenai  apakah  sasaran/subyek mengalami peningkatan dalam perilaku menolong mereka.

Hasil Intervensi
Berdasarkan  intervensi  berupa  sosialisasi  untuk  meningkatkan  perilaku menolong  yang  dimiliki  oleh  anak-anak  SMP  di  Panti  Asuhan Muhammadiyah  Malang.  Peneliti  menemukan  bahwa  untuk  meningkatkan perilaku  anak-anak  panti  asauhan  itu   bukanlah  hal  yang  mudah  untuk dilakukan.  Mengingat  latar  belakang  anak  asuh  yang  notabene  merupakan anak  yang  tidak  mendapatkan  kasih  sayang  orangtua  sepenuhnya,  sangatlah sulit  untuk  membuat  mereka  fokus  mengikuti  kegiatan  yang  kita
selenggarakan.  Di  awal  pertama  kali  peneliti  datang  untuk  memberi sosialisasi  tentang  materi  perilaku  menolong  (altruism  dan  prososial)  yang telah  peneliti  persiapkan.  Awalnya  mereka  terlihat  cukup  antusias,  namun seiring berjalannya waktu  sedikit demi sedikit fokus mereka pun pecah dan akhirnya  mereka  cenderung  tidak  memperhatikan  sosialisasi  yang  peneliti berikan. Banyak dari mereka membuat forum di dalam forum, dan berbicara hal-hal  yang  tidak  penting.  Namun  peneliti  dapat  dengan  sigap  mengubah suasana sosialisasi, dan banyak yang memperhatikan lagi.
Dalam sosialisasi yang dilakukan pada tanggal 6 Mei 2016 awal terdapat sebanyak  28  anak  asuh  yang  mengikuti  sosialisasi.  Setelah  selesai memberikan  sosialisasi  peneliti  memberikan  kartu  kontrol  berwarna  pink yang selama 6 hari (dari tanggal 6 Mei  –  11 Mei) akan diisi oleh anak-anak tersebut untuk mengetahui seberapa banyak perilaku menolong yang mereka lakukan.  Setelah  sosialisasi  berlangsung,  peneliti  menempelkan  3  poster  di mading panti asuhan yang berfungsi sebagai pengingat anak asuh untuk selalu
melakukan perilaku menolong kepada sesamanya. Pada tanggal 11 Mei 2016 peneliti  kembali  lagi  ke  panti  asuhan  itu  untuk  mengetahui  hasil  dari sosialisasi.  Jumlah  anak  asuh  yang  hadir  saat  itu  tidak  sebanyak  anak  asuh yang  hadir  saat  sosialisasi.  Dan  ada  beberapa  anak  yang  hadir  namun menghilangkan kartu kontrol yang telah peneliti bagikan. Disamping itu, ada beberapa  anak  yang  menulis  atau  mengisi  kartu  kontrol  ini  saat  sudah bertemu dengan peneliti.  Menyikapi hal itu, peneliti langsung membagi anak asuh  menjadi  beberapa  kelompok  kecil  untuk  melakukan  wawancara  secara berkelompok. Dalam wawancara dapat diketahui terdapat beberapa anak asuh yang  mengaku  memang  malas  untuk  mengisi  kartu  kontrol  yang  diberikan oleh peneliti. Anak asuh memberi alasan bahwa jangka waktu yang diberikan peneliti  terlalu  cepat  untuk  mengisi  kartu  kontrol  ini,  sehingga  tidak  dapat menulis secara penuh kartu kontol yang dibagikan oleh peneliti.
Dari  hasil  wawancara  itu,  peneliti  juga  menemukan  bahwa  perilaku menolong  yang  dimiliki  oleh  anak-anak  panti  asuhan  tersebut  memang meningkat  karena  mereka  mengaku  jujur  merasa  sedikit  tertantang  untuk melakukan  perilaku  menolong  yang  lebih  karena  adanya  kartu  kontrol tersebut. Disamping adanya kartu kontrol, peran poster yang peneliti tempel pada  2  mading  panti  asuhan  di  sisi  yang  berbeda  juga  bermanfaat  karena seringkali  anak  asuh  tergugah  untuk  berperilaku  menolong  ketika  setelah melihat  poster  tersebut.   Peningkatan  perilaku  menolong  tersebut  juga dipengaruhi oleh janji peneliti yang akan memberikan hadiah (reward) bagi anak yang memiliki track record terbaik di kartu kontrolnya. Namun ternyata yang memiliki track record terbaik hanya 5 orang saja.  Dari  wawancara itu juga  peneliti  menemukan  bahwa  memang  kedudukan  perilaku  menolong
antara  Altruisme  dan  Prososial  yang  ada  dipanti  asuhan  itu  kedudukannya setara. Kesetaraan ini dapat dibuktikan saat wawancara, karena ada beberapa anak yang mengatakan bahwa memang mereka yang tinggal di  panti asuhan itu  ditekankan  untuk  selalu  bertindak  secara  ikhlas,  namun  juga  ada sekelompok  anak  yang  mengatakan  bahwa  tidak  jarang  juga  perilaku menolong  yang  meraka  lakukan  disana  juga  tidak  lepas  dari  arahan  dan ancaman/hukuman yang diberikan oleh pengurus mereka disana.

Kesimpulan

Melihat dari hasil intervensi perilaku menolong anak-anak SMP di Panti Asuhan Muhammadiyah Malang, perilaku menolong yang dimiliki oleh anakanak panti asuhan tersebut meningkat karena mereka mengaku jujur merasa sedikit  tertantang  untuk  melakukan  perilaku  menolong  yang  lebih  setelah adanya  sosialisasi  dari  peneliti  dan  karena  adanya  kartu  kontrol  yang diberikan.
Dan kedudukan perilaku menolong antara Altruisme dan Prososial yang ada di panti asuhan itu kedudukannya setara (kedua perilaku menolong, baik altruism  ataupun  prososial  seimbang  dilakukan  oleh  masing-masing  anak). Kesetaraan  antara  perilaku  menolong  Altruisme  dan  Prososial  dikarenakan lingkungan  tempat  tinggal  mereka  yang  sangat  berperan  dalam  menentukan perilaku menolong yang manakah yang muncul dalam keadaan tertentu. Hal ini terlihat dari pernyataan beberapa anak yang mengatakan bahwa memang mereka  yang  tinggal  di  panti  asuhan  itu  ditekankan  untuk  selalu  bertindak secara  ikhlas,  namun  juga  ada  sekelompok  anak  yang  mengatakan  bahwa tidak jarang juga perilaku menolong yang meraka lakukan disana juga tidak lepas  dari  arahan  dan  ancaman/hukuman  yang  diberikan  oleh  pengurus mereka disana.

Saran

Dalam intervensi ini diharapkan terdapat waktu yang lebih panjang untuk melakukannya.  Dimana  untuk  menunjang  dalam  mendapatkan  hasil  yang lebih baik memang diperlukan waktu yang lebih. Selain itu, diperlukan waktu kontroling  yang  terjadwal  dan  lebih  ketat  misalnya  dilakukan  kontroling setiap  hari  pada  sore  hari.  Pertemuan  yang  sangat  singkat  menyulitkan
peneliti  untuk  mengobservasi  lebih  jauh,  agar  dalam  modifikasi  perilaku dapat  berjalan  dengan  tepat  maka  diperlukan  observasi  setiap  harinya mengenai  intervensi  yang  sedang  dijalankan.  Sehingga  untuk  melihat perkembangannya lebih jelas dan adanya error dapat diminimalisir.

DAFTAR RUJUKAN

Robert A. Baron, Donn Byrne, Psikologi Sosial, Jakarta: Erlangga.
Shelley E,Taylor dkk.Psikologi Sosial.2009.Jakarta.Kencana
Briliantari Riko, Helping Behaviour, 2014
Wulansari Niki, Teori Perilaku Menolong, 2013
USU “Pengaruh Tayangan Krimininal Terhadap Perilaku Menolong”

http://www.psychologymania.net/2010/05/perilaku-menolong-altruismeanalisis.html

PEMBENTUKAN SIKAP ANAK NEGERI

oleh Restu Putri Friandini

Anak  negeri  yang  tergabung  dalam  komunitas  Griya  Baca  secara general adalah anak dari keluarga yang berkemapuan menengah kebawah. Kesibukan orang tua dalam mencari uang  karena banyaknya kebutuhan yang harus dipenuhi  adalah faktor utama dari anak negeri yang membuat mereka terkesan tidak terurus serta bebas berada dimana saja tanpa adanya pengawasan dari orang tua ataupun kakak. Disamping itu pola hidup yang tak teratur serta intensitas yang sedikit untuk bertemu dengan orang tuanya mendasari  mereka  dalam  mengambil  sikap  dalam  berbagai  hal.  Banyak sikap  yang  mereka  ambil  tanpa  adanya  proses  kognisi  yang  panjang. Mereka  tidak  dapat  bahkan  sulit  untuk  sekedar  memikirkan  sikap  yang harusnya  mereka  tunjukkan  pada  orang  lain,  pantas  atau  tidak,  berefek negatif atau positif.  Sikap yang muncul  dari anak negeri ini kebanyakan adalah  hasil  dari mengadopsi sikap orang lain  yang mereka lihat. Sikap tersebut diadopsi  tanpa adanya  filtering  lebih jauh. Sehingga sikap yang dia pilih akan berpengaruh terhadap tingkah laku yang dia tunjukkan.

Kita diharuskan  mengetahui,sebenarnya bagaimanakah sikap dapat berkembang.  Apakah sudah ada sejak lahir atau kita memperoleh sikap dari  berbagai  pengalaman  hidup  yang  pernah  kita  lalui.  Psikolog  sosial percaya bahwa sikap itu dipelajari  dan juga diperoleh, namun beberapa bukti penelitian adalah sikap juga dapat dipengaruhi oleh faktor genetik. Terdapat  sumber  yang  paling  penting  dan  sudah  jelas  merupakan pembentuk sikap kita adalah kita mengadopsi sikap tersebut dari orang lain melalui proses pembelajaran sosial (social learning). Kebanyakan dari kita akan  mengobservasi  perilaku/sikap  orang  lain  ketika  kita  berinteraksi
dengannya  lalu  kita  mengadopsinya.  Seperti  yang  dilakukan  oleh  anakanak Griya Baca, diantara mereka akan banyak melakukan hal yang sama. Ketika anak negeri  yang berusia lebih tua melakukan suatu sikap,  pada kesempatan yang sama anak negeri yang lebih muda juga akan melakukan hal yang sama seperti yang pernah dia lihat dari temannya satu komunitas.

Belajar sosial terbagi  menjadi empat  sub-bagian yakni pembelajaran berdasarkan  asosiasi  (Classical  Conditioning),  belajar  untuk
mempertahankan  pandangan  yang  benar  (Instrumental  Conditioning), belajar dari contoh (Pembelajaran Melalui Observasi), dan  sebuah dasar pembelajaran melalui observasi (Perbandingan Sosial dan Pembentukan Sikap).
Yang  berhubungan  dengan  LPAN  Griya  Baca  ini  adalah pembelajaran  berdasarkan  asosiasi  (Classical  Conditioning).  Belajar dengan  metode  ini  adalah  dengan  memberikan  atau  memunculkan stimulus  yang  berulang  dan  dibarengi  dengan  stimulus  lain  yang mengikutinya.  Sehingga  individu  biasanya  akan  mengira  stimulus  yang muncul  pertama  akan  disusul  dengan  stimulus  berikutnya  yang  akan segera muncul.  Harapan dari pembelajarana ini  nantinya  adalah dengan memunculkan  stimulus  pertama  saja  individu  sudah  dapat  merespon sesuatu sesuai dengan apa yang diinginkan. Seperti yang banyak dilakukan oleh teman-teman volunteer terhadap anak-anak dikomunitas Griya Baca. Awalnya  teman-teman  volunteer  memberikan  stimulus  sebuah  kata
perintah untuk anak negeri melakukan sesuatu, namun anak negeri belum mau melakukannya.  Berikutnya anak negerti diberi stimulus yang sama yakni  sebuah  kata  perintah  dibarengi  dengan  memberikan  stimulus tambahan  yakni  snack,  maka  disitu  anak-anak  akan  mau  melaksanakan perintah yang diberikan oleh teman-teman volunteer. Sehingga nanti pada kegiatan berikutnya, ketika anak negeri diberikan stimulus yakni berupah kalimat perintah mereka langsung tanggap dan sigap melakukan perintah
yang sesuai.
Proses  yang  dikenal  dengan  classical  conditioning  ini  juga berpengaruh  dengan  pembentukan  sikap  anak.  Subjek  Anggah  yang
awalnya  tidak  mengenal  peneliti,  namun  beberapa  kali  melihat  ibu  Tri tersenyum dan suka bercanda dengan peneliti serta menunjukkan tandatanda  kesukaan  terhadap  peneliti.  Hasil  dari  hal  itu  adalah  Anggah mempelajari sikap positif yang harus diberikan terhadap peneliti, sehingga sejak  itu  Anggah  lebih  dekat  dengan  peneliti  dan  seringkali  bercanda bersama peneliti.
Proses  lain  yang  membentuk  sikap  dari  anak  LPAN  Griya  Baca adalah belajar dari contoh (belajar  melalui observasi).  Proses ini terjadi ketika  individu  mempelajari  bentuk  tingkah  laku  atau  pemikiran  baru hanya  dengan  mengobservasi  tingkah  laku  orang  lain  (Bandura,  1997). Dalam proses ini anak akan belajar dari apa yang dia lihat terhadap orang lain,  bukan  apa  yang  dikatakan  orang  lain  terhadap  anak.  Proses pembentukan  sikap  ini  bisa  dicontohkan  seperti  saat  anak  LPAN  Griya Baca, subjek penelitian yakni Anggah  dan Sahrul  ketika  selesai  pertemuan setiap kegiatannya. Mereka berdua akan bersalaman dengan semua kakakkakak volunteer. Karena itu merupakan suatu sikap yang memang banyak dicontohkan  oleh  anak  negeri  yang  berusia  lebih  tua  dari  Anggah  dan Sahrul.
Berikutnya proses pembentukan sikap yang  lain adalah sebuah dasar untuk pembelajaran melalui observasi.  Disini yang dimaksudkan adalah proses  pembentukan  sikap  dimana  kecenderungan  individu  untuk membandingkan dirinya dengan diri orang lain untuk menentukan apakah pandangan individu terhadap kenyataan sosial benar atau salah (Festinger, 1954).  Sejauh  pandangan  kita  disetujui  oleh  orang  lain,  kita  akan menganggap bahwa ide atau sikap kita tepat. Sementara ketika orang lain memiliki ide, sikap, atau pendapat yang sama dengan kita, maka kita akan menganggap bahwa pandangan itu pasti benar. Sehingga karena proses ini
kita sering kali mengubah sikap kita dengan sikap yang hampir mendekati sikap orang  lain.  Dan dalam beberapa kesempatan , perbandingan sosial dapat berkontribusi pada pembentukan sikap baru.
Dalam proses sebuah dasar untuk pembelajaran melalui observasi ini dapat  dicontohkan  dengan  Anggah  dan  Sahrul  yang  tergabung  dalam anggota LPAN Griya Baca ini awalnya tidak mengenal sama sekali kepada teman-teman  volunteer.  Anggah  dan  Sahrul  bisa  saja  memunculkan pandangan positif terhadap teman-teman vounteer atau bahkan pandangan negatif, namun seseorang yang Anggah dan Sahrul hormati serta percayai yaitu  Ibu  Tri  selalu  memberikan  pandangan  positif  kepada  anak-anak Griya  Baca  terhadap  teman-teman  volunteer.  Hal  itu  yang  membuat Anggah  dan  Sahrul  ketika  pertama  kali  bertemu  dengan  teman-teman
volunteer  sudah  tak  sungkan-sungkan  lagi  karena  pandangan  subjek terhadap kami adalah positif. Karena dalam kenyataannya sikap terbentuk dari  informasi  sosial  yang  berasal  dari  orang  lain  (apa  yang  kita  lihat tentang apa yang mereka katakan atau lakukan), dan keinginan kita sendiri untuk menjadi serupa dengan orang yang kita sukai atau hormati.

Daftar Rujukan
Baron,  Robert  A.,  Byrne,  Donn.  2003.  Psikologi  Sosial.  Jakarta; Erlangga.
Laros,  Say.  2011.  Griya  Baca  Kota  Malang,  Sebuah  Lembaga Pemberdayaan  Anak  Jalanan  yang  Inspiratif.  (Online),
(http://kanal3.wordpress.com/2011/08/08/griya-baca-kota-malangsebuah-lembaga-pemberdayaan-anak-jalanan-yang-inspiratif/&ei=5). Minggu, 07 Agustus 2011.