Teori Stres Lingkungan

Secara umum, ciri-ciri lingkungan yang dicerap oleh organisme dapat dilihat sebagai penyebab terjadinya respon stres dalam diri organisme (Beck, 1992). Respon stres organisme timbul terutama karena ciri-ciri lingkungan itu melebihi batas optimal ambang penerimaan dirinya. Secara otomatis, setelah menghadai keadaan semacam itu maka kemudian organisme menciptakan cara-cara perilaku tertentu untuk dapat mengakhiri stres itu.

Tanda-tanda awal respon terhadap stresor (penyebab stres) muncul dalam gejala-gejala reaksi fisiologis. Perlawanan terhadap stresor diikuti dengan perilaku aktif organisme menciptakan percobaan-percobaan psikologis untuk menghentikan stres yang dialami (Bell, Greene, Fisher, & Baum, 1996). Akhirnya apabila setelah semua sumber daya penyesuaian diri dalam diri inidividu habis dikerahkan, maka terjadi kondisi kelelahan psikologis dalam diri seseorang.

Secara khusus terdapat pakar-pakar psikologis yang berminat untuk meneliti aspek-aspek tambahan respon stres. Sebagai contoh, Lazarus (dalam Veitch & Arkkelin, 1995) menekankan kajian pada mekanisme penilaian (appraisal). Lazarus menjelaskan bahwa seseorang yang sebelum stres terjadi secara kognitif menilai suatu lingkungan sebagai suatu ancaman maka pada akhirnya perilakunya menjadi terpengaruh. Seseorang yang mengemudikan mobil pada jam-jam sibuk dan macet tidak akan mengalami stres, kecuali apabila ia memiliki penilaian bahwa jam-jam sibuk dan kemacetan lalu lintas merupakan sebuah ancaman terhadap kenyamanan perilaku mengemudinya.

 

 

Sumber:

Hanurawan, F. 2008. Psikologi Lingkungan. Malang: UM.