Teori Psikologi Ekologi

Tokoh teori psikologi ekologis yang juga seorang pengikut setia Kurt Lewin, Barker (dalam Veitch & Arkkelin, 1995) mengemukakan pendapat tentang pentingnya kesesuaian antara perilaku organisme dan lingkungan. Lingkungan dirancang atau dikembangkan untuk memenuhi standard perilaku tertentu. Seting perilaku dinilai berdasar pada kualitas kesesuaian antara ciri-ciri lingkungan yang interdependen dengan perilaku yang akan dilakukan dalam lingkungan itu. Sebagai contoh, lingkungan seperti lapangan sekolah, masjid, kolam renang, ruang kelas, dan kantor pemerintahan kota memiliki seting perilaku baku tertentu. Masing-masing lingkungan itu dinilai berdasar kesesuaian dengan perilaku yang akan dilakukan. Dalam hal ini misal lapangan sekolah adalah tempat untuk bermain anak-anak Sekolah Dasar Laboratorium Universitas Negeri Malang atau masjid Al-Hikmah adalah tempat untuk mengadakan sholat Jum’at warga muslim Universitas Negeri Malang (UM) dan sekitarnya.

Dalam teori ini, terdapat interaksi di antara seting fisik dan seting budaya, yang terwujud ke dalam pola perilaku baku yang secara sosial telah telah disetujui oleh suatu kelompok masyarakat budaya tertentu dan keadaan lingkungan tertentu. Pola perilaku baku dalam ruang kuliah sebuah universitas misalnya adalah dosen memberi ceramah, mahasiswa dan dosen saling mendengar, mahasiwa saling berdiskusi, mahasiswa membuat catatan, dan mahasiswa mengajukan pertanyaan-pertanyaan selama kuliah berlangsung. Kadaan fisik lingkungan yang melingkupi pola perilaku itu adalah ruang kelas dan segenap atributnya, seperti meja, kursi, papan tulis, dan proyektor. Berdasar pada rasional bahwa perilaku baku selalu terjadi dalam suatu seting lingkungan tertentu, maka para pakar psikologi ekologi mengemukakan bahwa pemahaman terhadap seting lingkungan tertentu dapat membantu seseorang untuk meramalkan peristiwa-peristiwa yang akan terjadi dalam seting lingkungan itu.

 

 

Sumber:

Hanurawan, F. 2008. Psikologi Lingkungan. Malang: Universitas Negeri Malang.