Psikologi lintas budaya

Salah satu definisi tentang psikologi lintas budaya adalah definisi yang dikemukakan oleh Segall dkk. (1990) yang menyatakan bahwa psikologi lintas budaya adalah cabang psikologi yang melakukan kajian-kajian terhadap fenomena kejiwaan dan perilaku manusia dalam konteks lintas budaya. Psikologi lintas budaya memiliki tujuan untuk mengungkap tentang cara-cara tradisi budaya mengatur, mempengaruhi, dan mentransformasikan fenomena kejiwaan dan perilaku manusia. Fenomena kejiwaan dan perilaku manusia meliputi tiga ranah penting dalam kajian-kajian psikologi, yaitu dalam cara berpikir, berperasaan, dan cara berperilaku manusia.

Dalam upaya untuk membuka perspektif psikologi yang lebih berimbang maka kemudian lahir psikologi lintas budaya. Keberimbangan itu dapat dilihat dari cakupan psikologi lintas budaya yang melakukan kajian-kajian terhadap prinsip-prinsip psikologi universal yang melandasi perilaku manusia melalui studi kesamaan lintas budaya dan perbedaan lintas budaya terkait dengan topik-topik psikologi. Topik-topik psikologi itu misalnya adalah emosi, kognisi, perilaku lingkungan, prasangka dan stereotip, akulturasi, sosialisasi, komunikasi, organisasi, hubungan erat (close relationship), pengasuhan anak, dan cinta (Jungsik, 2005).

Perkembangan psikologi lintas budaya di Indonesia dimulai pada sekitar pertengahan tahun 1980an yang ditandai dengan munculnya penelitian disertasi tentang stereotip etnik di dalam budaya-budaya kelompok etnik di Indonesia oleh Prof. Dr. Soewarsih Warnaen. Kepeloporan pengembangan psikologi lintas budaya Prof. Dr. Soewarsih Warnaen dalam bidang psikologi lintas budaya dilanjutkan dalam pengajaran matakuliah psikologi lintas budaya pada program S2 Psikologi Sosial di Universitas Indonesia sejak akhir tahun 1980an.

Perkembangan teori dan hasil penelitian psikologi lintas budaya ternyata memberi implikasi yang cukup penting dalam perkembangan ilmu psikologi di abad 21. Implikasi itu terutama memberi pengaruh kepada eksistensi psikologi aliran utama (mainstream), yaitu psikologi yang berkembang di wilayah geografis dan wilayah kebudayaan Barat secara umum dan psikologi yang berkembang di wilayah geografis dan wilayah kebudayaan Amerika Serikat secara khusus. Pada zaman kita yang posmodernisme ini (Gergen dkk., 1996), banyak orang semakin memahami suatu fakta bahwa banyak teori psikologi Barat ternyata tidak dapat secara semena-mena diberlakukan untuk wilayah geografis dan wilayah kebudayaan yang lain.

 

 

 

Sumber:

Hanurawan, F. 2015. Ilmu Psikologi Untuk Pemecahan Masalah-Masalah Kemanusiaan. Pidato Pengukuhan Guru Besar dalam Bidang Ilmu Psikologi pada Fakultas Pendidikan Psikologi disampaikan pada Sidang Terbuka Senat Universitas Negeri Malang. 10 Desember.