“Perilaku Kolektif di Rumah Belajar, Malang”

Deskripsi Lokasi

Lokasi rumah belajar ini berada di pemukiman padat penduduk yang berada di daerah Muharto gang 5, yang lokasinya tidak jauh dari Alun-Alun kota Malang dan bisa ditempuh dengan waktu 10 menit. Lokasi rumah belajar ini berada di dalam gang pemukiman warga yang sangat padat dan juga dengan jalan yang sempit dan hanya bisa dilewati oleh 1 kendaraan bermotor saja. Jalanannya sangat curam dan mengarah ke sungai yang cukup besar yang berada disamping pemukiman warga.

Untuk lokasi rumah belajarnya sendiri terletak di depan rumah warga yang cukup luas, dan masuk ke dalam gang yang lebih sempit lagi dibanding gang utama. Untuk kondisi dari rumah belajar itu sendiri berada di samping sungai yang kotor dan cukup deras. Di sisi lain tempat yang dibuat untuk belajar tiap minggunya pelataran rumah warga yang cukup luas yang hanya beralaskan karpet berwarna hijau dengan ukuran kurang lebih 6×4 meter dan juga hanya beratapkan plastik berwarna putih yang tipis dengan lebar yang tak jauh beda dengan lebar alasnya.

Deskripsi Permasalahan

Dekatnya tempat belajar dengan rumah warga yang padat penduduk juga mengharuskan para sukarelawan untuk bisa sedikit was was dengan lingkungan sekitar yang tidak kondusif dengan proses belajar. Sukarelawan sering kali melihat sekumpulan anak-anak yang tidak mengikuti kegiatatan belajar berada di sekitar lokasi. Keberadaan mereka cukup mengganggu proses pembelajaran. Mereka tidak hanya berkeliaran disekitar lokasi, mereka juga terkadang sering teriak-teriak tidak jelas dan sering mengajak anak-anak yang sedang belajar untuk ikut mereka bermain disekitar lokasi.

Pernah suatu hari mereka melakukan hal yang sangat mengganggu proses pembelajaran. Ketika itu ada salah satu mahasiswa sukarelawan yang datang membawa kamera SLR, tujuan sukarelawan tersebut adalah untuk mendokumentasikan kegiatan yang berada di rumah belajar tersebut. Akan tetapi dua anak diantara mereka tiba-tiba mendekati sukarelawan tersebut dan berniat meminjam kamera yang dibawanya. Lalu sukarelawan tersebut meminjamkannya tanpa syarat. setelah mendapatkan pinjaman kamera tersebut, salah satu dari mereka mengajak teman-teman mereka yang berada tidak jauh dari mereka untuk ikut bergabung dan bermain kamera yang telah dipinjamnya. Dalam sekejap suasana belajar berubah menjadi gaduh dan tidak dapat dikendalikan. Para gerombolan anak tersebut memainkan kamera dan memotret bererapa orang disekitar mereka, mereka juga memotret para anak-anak perempuan yang sedang konsentrasi belajar. Dan konsentrasi para anak-anak yang sedang belajar sangat terganggu dengan kehadiran dan perilaku mereka. Mereka sempat diingatkan oleh beberapa sukarelawan untuk tidak melakukan hal tersebut, tetapi tetap saja mereka tidak mendengrkan dan tetap melakukan hal tersebut.

 

 PEMBAHASAN

  • Pengertian perilaku Kolektif

Perilaku kolektif adalah cara berfikir , berperasaan, bertindak sekumpulan individu yang secara relatif bersifat spontan dan tidak terstruktur yang berkembang dalam suatu kelompok atau suatu populasi sebagai akibat dari saling stimulasi antar individu. Perilaku kolektif merupakan suatu perilaku yang tidak biasa, sehingga perilaku kolektif dapat diartikan sebagai tindakan yang relatif spontan, tidak terstruktur dan tidak stabil dari sekelompok orang. Perilaku kolektif merupakan perilaku yang menyimpang namun berbeda dengan perilalaku menyimpang karena perilaku kolektif merupakan tindakan bersama oleh sejumlah besar orang , bukan tindakan individu semata-mata. Perilaku kolektif meliputi perilaku kerumunan (crowd) dan gerakan sosial (civil society). Rangsangan yang memicu terjadinya perilaku kolektif bisa bersifat benda, peristiwa maupun ide.

  • Ciri-ciri perilaku kolektif adalah sebagai berikut :
  1. Dilakukan oleh sejumlah orang
  2. Tidak bersifat rutin / hanya insidental
  3. Dipacu ioleh beberapa rancangan masalah
  • Bentuk penyimpangan perilaku kolektif
  1. Tindak kenakalan
  2. Tawuran atau perkelahian antar kelompok
  3. Tindak kejahatan berkelompok atau komplotan
  4. Penyimpangan budaya
  • Teori Nilai Tambah terhadap Perilaku Kolektif

Neil Smelser (Stephan & Stepan,1990) yang mengajukan teori nilai tambah (value added theory) mengemukakan bahwa terdapat enam tahap penentu terjadinya perilaku kolerif. Keenam tahapan itu adalah kekondusifan struktural, kendala struktural, berkembang dan menyebarnya keyakinan yang di generalisasikan, faktor-faktor yang memicu, mobilisasi partisipasi bagi suatu gerakan, dan operasi kontrol sosial. Meskipun teori nilai tambah ini banyak mendapat kritik, atau sampai saat ini dipandang senagai salah satu trori klasik yang cukup representatif untuk menjelaskan fenomena perilaku kolektif atau oerilaku massa yang terjadi dalam suatu konteks sosial riil.

  • Teori Psikologi Sosial terhadap Perilaku Kerumunan

Salah satu perilaku kognitif yang banyak mendapat soritan para ahli psikologi sosial adalah perilaku yang terjadi pada kerumunan (crowd). Kerumunan adalah konsep yang menggambarkan semua jenis cara berkumpulnya orang-orang pada suatu tempat tertentu secara langsung (Mueller & Kendall, 2004). Dalam kerumunan, seseorang berdekata secara fisik yang bersifat sementara dalam kontak kedekatan fisik yang melakukan reaksi secara bersama terhadap stimulus yang sama. Dalam proses terbentuknya perilaku kerumunan biasanya didahului oleh milling, yaitu proses komunikasi yang mengarah pada suatu pembentuka definisi situasi yang kemudian mengarah pada kemungkinan tindakan bersama (Stephan & Stephan). Dalam kerumunan orang mudah dipengaruhi (sugestiblei). Terdapat tiga teori yang biasanya dipakai oleh pakar Psikologi Sosial untuk menjelaskan dinamika perilaku kerumunan, yaitu teori penularan, konvergensi, dan teori pemunculan norma.

Dari teori yang berkaitan dengan perilaku kolektif yang telah dijelaskan diatas dapat di analisis bahwa kerumunan anak yang berada disekitar lokasi tersebut pada awalnya hanya bermain-main seperti biasa. Salah satu sukarelawan yang datang dan membawa kamera merupakan pemicu dari perilaku mereka. mereka menganggap bahwa kamera merupakan hal yang sangat menarik untuk mereka. Perilaku mereka dimobilisasi oleh tiga orang yang datang kepada sukarelawan untuk meminjam kamera tersebut dan kemudian tindakan tiga anak tersebut diikuti oleh kerumunan anak yang lain yang berada di sekitar tempat pembelajaran. Perilaku mereka memang bukan perilaku kolektif yang mengancam atau membahayakan orang disekitar mereka. tetapi tetap saja, perilaku kolektif mereka juga merupakan perilaku kenakalan suatu kelompok yang merugikan bagi orang disekitar mereka. anak-anak yang sedang belajar menjadi tidak konsentrasi dengan perilaku mereka yang membuat gaduh.

 

PEMBELAJARAN YANG DIPEROLEH

Dari teori serta pembahasan yang terurai diatas, dapat diketahui bahwa perilaku kolektif merupakan sebuah cara berfikir, berperasaan dan bertindak oleh sekumpulan individuyang secara relatif bersifat spontan dan tidak terstruktur dan berkembang dalam suatu kelompok atau suatu populasi sebagai akibat dari saling stimulasi antarindividu. Perilaku kolektif ini sendiri tidak diatur oleh norma-norma tertentu dan tidak dilembagakan secara formal.

Neil Smelser yang mengajukan teori nilai tambah mengemukakan teori nilai tambah mengemukakan bahwa terdapat enam tahap penentu terjadinya perilaku kolektif, yaitu kekondusifan struktural, kendala struktural, berkembang dan menyebarnya keyakinan yang di generalisasikan, faktor-faktor yang memicu, mobilisasi partisipasi bagi suatu gerakan, dan operasi kontrol sosial. Kerumunan adalah konsep yang menggambarkan semua jenis cara berkumpulnya orang-orang pada suaru tempat tertentu. Dalam kerumunan yang dimaksud, setiap orang berdekatan secara fisik yang dapat memberikan pengaruh terhadap perilaku mereka sebagai suatu kesatuan. Terdapat tiga teori yang biasanya dipakai oleh pakar Psikologi Sosial untuk menjelaskan dinamika perilaku kerumunan, yaitu teori penularan, konvergensi, dan teori pemunculan norma.

 

 

DAFTAR RUJUKAN

Hanurawan, Fattah. Psikologi Sosial Suatu Pengantar, Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2012

Komsiah, Siti. S.IP, M.Si., Modul Pengantar Sosiologi, Jakarta : Pusat Pengembangan Bahan Ajar Universitas Mercu Buana, 2010

Razak Yusron. Sosiologi Sebuah Pengantar Sosiologi, Bandung : Gamma Press, 2007