PERSEPSI ANAK PRA REMAJA TERHADAP INTERAKSI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS DI KOMISI ANAK GKI BROMO

oleh Melda Cristianty Purba

Tulisan ini merupakan hasil observasi dan wawancara yang dilakukan di Komisi Anak GKI Bromo Malang. Dari hasil observasi yang penulis lakukan di Komisi Anak GKI Bromo kelas Pra-Remaja, penulis memperoleh data 50 siswa/siswi, dimana diantaranya ada seorang anak berkebutuhan khusus (ABK). Berdasarkan wawancara penulis dengan salah seorang Guru Sekolah Minggu (GSM) kelas Pra-Remaja, dikatakan bahwa anak tersebut mengalami beberapa kendala dalam bidang interaksi sosial, komunikasi dan kerja sama dengan teman-teman sebayanya. Kemudian hasil serupa juga penulis dapatkan dari wawancara dengan beberapa anak, bahwa pernah terjadi permasalahan ketidakcocokan antara ABK dengan anak pra-remaja lainya. Permasalahan ini disebabkan oleh adanya persepsi yang berbeda dari anak-anak pra remaja terhadap ABK.

 

Hasil

  1. Persepsi Anak Pra-Remaja terhadap Anak Berkebutuhan Khusus

Anak-anak pra-remaja GKI Bromo sudah mengenal SR selama kurang lebih 2 tahun. Beberapa di antara mereka merupakan teman sekelas sejak duduk di bangku 5 SD. Banyak di antara mereka yang membentuk kesan-kesan (impressions) tentang diri SR dalam proses pembentukan persepsi. Ketika mengenal SR, kesan pertama (first impressions) yang mereka simpulkan adalah SR merupakan anak yang berbeda dari kebanyakan anak lainnya. Anak-anak pra-remaja membangun gambaran SR dari tingkah laku yang muncul. Hal itu terbukti ketika mereka menganggap SR memiliki perilaku yang aneh.

Hasil persepsi antara individu satu dengan individu yang lain tidak sama. Mereka yang tergabung dalam kelompok usia 13 tahun membentuk suatu komponen kognitif bahwa, SR adalah anak yang pintar walaupun berkebutuhan khusus yang memerlukan bimbingan oleh orang lain. Gambaran komprehensif dalam mendayagunakan segenap informasi yang dimiliki untuk membentuk kesan-kesan (impressions) tentang SR  juga dilakukan oleh kelompok usia 15 tahun. Mereka menyimpulkan bahwa SR memiliki tingkah laku yang tidak biasa. Mereka juga merasa tidak mengerti komunikasi yang dilakukan SR dan merasa kurang nyambung ketika berbicara kepadanya. Berbagai asumsi yang disimpulkan oleh kelompok pra-remaja ini. Mereka menganggap tingkah laku SR itu hanya dibua-buat saja. Karena status dan comment yang dimilikinya dalam social media layaknya anak normal. Mereka juga mempersepsikan bahwa gerakan-gerakan yang dilakukan SR dikarenakan ia mengalami kesepian dan mencari perhatian orang lain.  Adanya persepsi yang berbeda dari kelompok usia tersebut, memberikan gambaran bahwa persepsi itu memang bersifat individual

Dalam hal ini, persepsi akan memengaruhi bagaimana pola sosialisasi antara anak-anak pra-remaja (percevier) dengan SR (object), yang dipersepsikan dengan dukungan faktor lingkungan (situation). SR menunjukkan adanya tanda-tanda nonverbal atau tingkah laku nonverbal yang kurang disukai oleh  teman sebayanya saat berkomunikasi, seperti ekspresi wajah, kontak mata, postur, gerak tubuh dan berbagai tingkah laku ekspresif lainnya. Komponen afektif (komponen emosional) yang dibentuk ini membuat keengganan anak-anak pra-remaja lainnya untuk dekat dengannya.

 

  1. Keberadaan Anak Berkebutuhan Khusus di Kelas

Dalam mempertahankan kehadirannya, anak berkebutuhan khusus di hadapkan mana kala di tengah masyarakat sekitarnya tidak mendapatkan respon yang positif dan konstruktif dalam menyikapi perilakunya. Kondisi inilah yang kelak mengundang berbagai dimensi sikap dan tanggapan lingkungan terhadap kondisi SR.

Ciri-ciri utama bersifat teratur berasal dari perilaku defensif yang dilakukan oleh SR, tak jarang anak-anak pra-remaja mengolok-olok atau menertawai tingkah lakunya. Adanya komponen konatif (komponen perilaku, atau action component) mengundang berbagai dimensi sikap dan tanggapan lingkungan terhadap kondisi SR. Efek Awal (primary effect) dari perilaku SR menunjukkan bahwa perilakunya akan banyak mewarnai persepsi anak-anak pra-remaja terhadap sikap dan tingkah laku yang dilakukan.

Dengan adanya hambatan yang dimiliki oleh SR, Mereka menganggap bahwa SR termasuk anak yang aktif di dalam kelas. Kahoon adalah alat musik yang sering dimainkan oleh SR pada setiap hari Minggu. SR dapat memainkan Kahoon dengan baik yang diikuti oleh irama dan nada yang sesuai ketukan. Adanya ketertarikan yang berlebihan pada alat musik tersebut, membuat anak-anak pra-remaja lainnya mempersepsikan bahwa SR sangat terobsesi bermain Kahoon.

 

  1. Interaksi Sosial Anak Berkebutuhan Khusus dengan Teman Sebaya

Anak-anak dengan berkebutuhan khusus, kurang dapat merasakan kontak sosial. Mereka cenderung menyediri, dan menghindari kontak dengan orang lain. Begitu juga halnya dengan SR, interaksi sosial yang ia lakukakan menjadi lebih rumit karena hambatan yang ia alami. Adanya kelainan yang di alami oleh SR, baik dalam aspek mental maupun emosinya, tidak menyurutkan semangatnya untuk aktif dalam berbagai kegiatan. SR merupakan anak yang aktif di berbagai pelayanan gereja. Meskipun begitu, dukungan orang tua sangat di butuhkan kepada SR.

Dari hasil wawancara yang dilakukan dengan guru sekolah minggu, SR cenderung lebih suka bermain sendiri. Kedekatannya pada teman sebayanya hanya terlihat dalam keikutsertaannya dalam pelayanan maupun kelompok area di dalam kelas. Interaksi tersebut telihat sulit di lakukan karena SR memiliki hambatan dalam komunikasi verbal maupun non verbal, interaksi sosial, perilaku, fungsi afektif/emosi dan dalam persepsi sensoris. SR cenderung menolak adanya persepsi sentuhan, baik dari guru maupun teman sebayanya. Ketika berkomunikasi hanya sepenggal pertanyaan yang diucapkannya dan cenderung melakukan pertanyaan yang berulang.

Menurut anak-anak pra-remaja lainnya, SR memiliki kedekatan dengan seseorang yang menjadi teman akrabnya. Kedekatan itu dipersepsikan oleh mereka, bahwa SR dan temannya memiliki dunia sendiri ketika sedang bermain dan berbincang-bincang. Mereka menganggap keduanya memiliki sifat dan berkelainan yang sama.

 

  1. Komunikasi Anak Berkebutuhan Khusus dengan Teman Sebaya

            Komunikasi sosial sangat penting dalam kehidupan interaksi sosial manusia. Komunikasi melibatkan pengiriman dan penerimaan pesan antar individu. Apabila komunikasi sosial tidak berjalan secara efektif maka pemahaman timbal balik dapat mengakibatkan terkendalanya hubungan sosial di antara kedua belah pihak yang terlibat dalam proses komunikasi. Dalam hal ini, salah satu bentuk instrumen komunikasi yang sangat penting adalah melalui bahasa.

Terhambatnya fungsi komunikasi, menjadi kesulitan bagi SR untuk berinteraksi dengan anak-anak pra-remaja lainnya. Keterbatasan kosakata dan pengulangan pertanyaan menjadi hal yang sering di lakukan oleh SR, ketika berkomunikasi. Hal itu terbatasnya interaksi karena tidak tersampaikannya suatu makna dari SR kepada kelompok teman sebayanya.

 

  1. Kerjasama Anak Berkebutuhan Khusus dengan Teman Sebaya

            Hasil penelitian menunjukkan bahwa SR mampu melakukan kerjasama bersama teman-temannya. Meskipun dengan bantuan dari orang sekitarnya. Mereka menganggap pekerjaan SR melambat dan cenderung kurang tanggap jika tanpa bimbingan dan dorongan orang sekitarnya.

Selama berada dalam kelompok, anak-anak mengakui bahwa SR memiliki kemampuan akademik yang setara dengan anak lainnya, khususnya dalam menghafal. Sedangkan dalam kemampuan bidang fisik, SR cenderung lemah.