Proses Perubahan Sikap Yang Tercermin Dalam Volunteer Griya Baca

oleh: Rezki Nur Anisa Septiyanti Putri

Berkuliah di jurusan Psikologi mengharuskan mahasiswa untuk melakukan kegiatan terjun langsung kelapangan dalam usaha untuk mempraktekkan apa yang telah mereka pelajari di kelas. Salah satu kegiatan terjun lapangan tersebut adalah volunteer. Volunteer sendiri adalah suatu kegiatan yang dilakukan secara sukarela yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan orang lain.

Di dalam volunteer membuat setiap individu yang mengikuti kegiatan volunteer untuk beriteraksi dengan orang banyak. Dari sinilah sikap setiap individu menentukan penilaian terhadap suatu objek maupun situasi tertentu. Banyak mahasiswa yang telah berpengalaman dalam hal volunteer sebelumnya, tapi banyak pula mahasiswa yang baru pertama kali ikut dalam kegiatan volunteer.

Tulisan ini akan membahas mengenai sikap para pengajar dalam kegiatan volunteer Griya Baca. Tujuan penelitian ini adalah untuk menunjukkan bahwa perilaku orang lain mempengaruhi sikap yang akan diberikan oleh seorang individu, yang tercermin dari kegiatan Volunteer di Griya Baca.

Data didapatkan dari observasi dan wawancara. Wawancara dilakukan untuk melengkapi data observasi yang telah dilakukan observer selama berkegiatan volunteer di Griya Baca. Wawancara dilakukan pada tempat dan waktu yang berbeda dengan setiap narasumbernya. Berdasarkan wawancara pada subjek didapatkan data sebagai berikut:

  1. Subjek 1

Narasumber mengatakan bahwa dia merasa senang ketika mendapatan tugas volunteer, walaupun masih ada perasaan bingung untuk menentukan lokasi Volunteer, narasumber juga masih bingung kegiatan apa yang akan dia lakukan ketika Volunteer. Ketika akhirnya narasumber bergabung dalam kegiatan Volunteer di Griya Baca (GB), dia mempunyai penilaian awal bahwa adik-adik binaan disana sangat welcome terhadap pengajar.

Adik-adik binaan dinilai juga cepat mengerti instruksi yang diberikan para pengajar, tapi ada kelemahan yaitu kadang adik-adik binaan fokusnya teralihkan dengan kendaraan yang berlalu-lalang, karena lokasinya yang berada di dekat jalan raya. Narasumber menyebutkan usaha mereka untuk mengembalikan fokus adik-adik binaan dengan kata-kata persuasi atau dengan diiming-imingi sesuatu. Narasumber tidak terlalu merasa terganggu dengan hilangnya fokus adik-adik, ia malah merasa tertantang dengan situasi tersebut, jadi narasumber semakin tertantang untuk mencari cara bagaimana mengembalikan fokus adik-adik tersebut.

Narasumber merasa motivasi sesama pengajar juga mempengaruhi motivasi narasumber sendiri. Untungnya sampai kegiatan volunteer ini selesai, pengajar lain mempunyai motivasi yang positif mereka cenderung bersemangat, jadi narasumberjuga ikut bersemangat. Kesan yang didapatkan narasumber dalam kegiatan ini adalah narasumber akhirnya bisa merasakan kegiatan mengajar yang berbeda dari yang lain, yaitu diadakan bukan di dalam kelas, jadi ada sensasi tersendiri dalam kegiatan ini.

 

  1. Subjek 2

Narasumber merasa senang dengan adanya kegiatan volunteer ini, karena ia menganggap kegiatan seperti ini bisa memberikan pengalaman secara langsung sekaligus bisa memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain. Narasumber berpikir bahwa anak Griya Baca akan malu-malu dan kuranga aktif, tapi seperti narasumber yang lain, setelah bertemu langsung dengan adik-adik binaan ternyata tidak seperti yang dipikirkan, walaupun ketika mengajari awalnya cukup susah, tapi setelah beberapa pertemuan selanjutnya malah berjalan dengan mudah. Untuk sesama volunteer, narasumber menilai kalau pengaruh satu sama lain sangat berperan penting, fungsinya untuk saling memotivasi dan memberi solusi hal-hal yang sulit untuk diatasi ketika mengajar.

  1. Subjek 3

Kesan pertama ketika mendapatkan tugas volunteer narasumber merasa tertarik karena memang narasumber adalah individu yang menyukai kegiatan turun lapangan. Tapi narasumber mengatakan bahwa ia kurang merasa nyaman di Griya Baca awalnya, karena ketidak cocokan sistem yang diberikan oleh pengurusnya. Tapi setelah berkegiatan langsung dengan adik-adik binaan narasumber merasakan perasaan senang karena dari sikap adik-adiknya sendiri sangat welcome dan mudah di ajak untuk kerja sama. Hal ini membuat penilaian narasumber berubah, dari yang sebelumnya mengira anak jalanan itu menutup diri, sekarang mulai berubah.

Kalau dari sesama pengajar, narasumber mengatakan bahwa ia tidak merasakan hal atau motivasi tertentu, maksudnya pengaruh pengajar lain tidak mempengaruhi motivasi dalam diri narasumber.

  1. Subjek 4

Ketika mendapatkan tugas volunteer narasumber menilai hal tersebut bagaikan peluang emas, dikarenakan memang sudah lama subjek ingin melakukan volunteer, tapi dia selalu disibukkan dengan acara organisasiny, jadi dikarenakan volunteer ini merupakan tugas kuliah jadi ada alasan yang kuat untuk melakukan volunteer. Sebelum melakukan volunteer di Griya Baca, narasumber megira adik-adik binaan akan berperilaku seperti anak punk, susa diatur dan semacamnya. Tapi kesan setelah bertemu ternyata adik-adik binaan jauh dari kata anak punk, gampang diatur ternyata adik-adik binaan GB. Masalah kecilnya adalah mereka cenderung moody , tapi hal ini malah menantang narasumer untuk lebih melatih sikap humanisnya.

Dari kasus yang diperoleh disesuaikan dengan teori yang mendukung didapatkan bahwa tingkah laku orang lain mempengaruhi sikap yang akan diberikan oleh seorang individu kepadanya. Dalam kegiatan Volunteer ini sesuai dengankesimpulan awal didapatkan hasil bahwa adanya perubahan sikap serta pandangan tentang anak binaan yang ada di Griya Baca, yaitu anak binaan Griya Baca yang dikira cuek dan pasif ternyata tidak persis seperti apa yang diperkirakan. Perubahan prasangka menjadi sikap yang positif ini dikarenakan adanya interaksi secara langsung.

Sesuai dengan tiga komponen pembentuk sikap, kegiatan volunteer di Griya Baca menunjukkan bahwa terdapat perubahan sikap pengajar atas adik-adik binaan, yang terbentuk dari tiga komponen tersebut. Pertama pada komponen kognitif yang berisi pemikiran serta ide-ide yang berkenaan dengan objek sikap, para pengajar (mahasiswa psikologi) awalnya mempunyai pemikiran mengenai adik-adik binaan Griya Baca (GB) hanya terdiri dari anak-anak jalanan saja, yang memiliki sikap cuek dan pasif, serta sulit untuk diatur. Pertama pada komponen afektif yang berisiperasaan atau emosi seseorang atas objek sikap, tercermin dari perilaku adik-adik binaan yang ternyata welcome dan selalu menuruti instruksi yang diberikan oleh pengajar, mengubah perasaan tidak senang pengajar menjadi perasaan senang. Ketiga pada komponen perilaku yang melalui respon subjek yang berkenaan dengan objek sikap, karena sikap adik binaan yang welcome sehingga mengubah perasaan para pengajar, maka sikap pengajar mulai berubah juga, pengajar menjadi termotivasi dalam mengajar.

Dalam teori pengkondisian instrumental (instrumental conditioning), yaitu proses dimana suatu tingkah laku akan dilakukan kembali ketika mendatangkan hasil yang menyenangkan bagi si pelaku, dan akan dihentikan ketika memberikan hasil yang tidak menyenangkan bagi si pelaku. Terdapat beberapa sikap yang berhasil dirubah. Pertama pada sikap pengajar, hal yang menyenangkannya berupa sikap welcome dan menurut dari adik-adik GB, maka hasilnya para pengajar semakin lebih giat dan termotivasi dalam mengajar adik-adik GB. Kedua pada sikap adik-adik GB, hal menyenangkannya berupa adanya hadiah bagi adik-adik yang dengan cepat dan tepat menyelesaikan perintah yang diberikan pengajar, membuat adik-adik semakin termotivasi untuk bersaing dalam menyelesaikan perintah yang diberikan pengajar.

Dalam teori belajar melalui pengamatan (observational learning) yaitu proses pembelajaran dengan mengamati perilaku orang lain, menyebabkan perubahan sikap. Sesuai dengan observasi yang dilakukan oleh peneliti bahwa adik-adik GB terlihat semakin bersemangat ketika pengajar juga berkata-kata dengan semangat. Misalnya dalam permainan outbond, beberapa pengajar memberikan contoh cara bermain dengan bersemangat, setelah gantian adik-adik yang diharuskan untuk bermain, mereka menirukannya dengan bersemangat pula.

Dalam teori perbandingan sosial (social comparison), yaitu proses membandingkan dengan tingkah laku orang lain mengenai apakah tingkah laku yang telah kita lakukan itu benar, didapatkan bahwa setiap pengajar dinilai memberikan pengaruh kepada pengajar lain. Tidak hanya dalam hal motivasi dan semangat, setiap pengajar akan melakukan evaluasi atas dirinya terhadap benar atau salah tindakan yang telah ia lakukan. Misalnya dengan bertanya ‘eh… cara mengerjakan ini seperti ini kan?’ atau ‘kalau aku bertanya seperti ini itu benarkan?’.