BERPIKIR TINGKAT TINGGI & PROBLEM SOLVING KESEHATAN REPRODUKSI SISWA CERDAS ISTIMEWA

Nur Eva

Fakultas Pendidikan Psikologi Universitas Negeri Malang;

Email: nur.eva.fppsi@um.ac.id

(Makalah seminar dalam Seminar Nasional Pendekatan Integratif Pendidikan Seksual dalam Menyiapkan Generasi Emas Indonesia (Proceedings) di Fakultas Pendidikan Psikologi Universitas Negeri Malang 2 November 2014)

Abstrak:  Problem kesehatan reproduksi siswa Cerdas Istimewa (CI) dalam usia remaja tidak jauh berbeda dengan remaja yang lain. Tugas perkembangan remaja adalah menyiapkan diri berinteraksi dengan lawan jenis untuk menjalankan peran gendernya pada masa dewasa. Siswa CI pada usia remaja mampu berpikir abstrak yang melebihi kemampuan remaja pada umumnya. Hal ini merupakan dasar untuk berpikir tingkat tinggi. Kemampuan berpikir tingkat tinggi dapat digunakan untuk menyelesaikan problem kesehatan reproduksi yang muncul masa remaja. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan kemampuan berpikir tingkat tinggi dan problem solving kesehatan reproduksi siswa CI. Subyek penelitian ini adalah siswa CI program akselerasi pada tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) di kota Sidoarjo Jawa Timur  dan berjumlah 30 orang. Alat ukur yang digunakan adalah kuesioner tentang berpikir tingkat tinggi dan problem solving. Hasil penelitian menunjukan adanya hubungan positif antara kemampuan berpikir tingkat tinggi & problem solving kesehatan reproduksi. Dengan demikian disarankan agar siswa CI yang mempunyai kemampuan berpikir tingkat tinggi dan mampu melakukan problem solving kesehatan reproduksi menjadi tutor sebaya bagi remaja seusianya.

Kata kunci: siswa CI, berpikir tingkat tinggi, problem solving, kesehatan reproduksi

 

            Remaja adalah generasi yang akan menerima tongkat estafet kehidupan masa yang akan datang. Berpijak dari peranan remaja yang sangat strategis ini menjadi hal yang penting untuk menyelamatkan remaja dari berbagai problem yang akan menghancurkan kehidupannya. Selama ini problem yang menerpa kehidupan remaja tidak dapat dianggap sepele. Problem pendidikan, kesehatan, ekonomi, sosial, budaya, dll menjadi penghalang remaja untuk tumbuh dan berkembang secara optimal. Salah satu problem remaja yang perlu dicermati adalah terkait dengan problem kesehatan reproduksi. Problem kesehatan reproduksi (kespro) pada remaja dapat dibagi menjadi dua, yaitu ringan dan berat. Problem kespro yang ringan seperti gangguan kesehatan akibat menstruasi, keputihan, dll. Sedangkan problem kespro yang berat seperti,  aktivitas seksual sebelum menikah, kehamilan di luar nikah, aborsi, terjangkitnya penyakit menular seksual termasuk HIV/AIDS. Problem kespro ini akan mengganggu remaja menjalankan aktivitas pribadi dan sosial. Bahkan, problem kespro yang berat akan menghancurkan kehidupan remaja. Akibatnya remaja akan kehilangan kesempatan untuk menyiapkan diri menjadi generasi yang siap menerima tongkat estafet kehidupan.

            Problem kespro pada remaja dapat selesaikan dengan melibatkan remaja itu sendiri dengan membekali remaja dengan berbagai informasi yang terkait dengan kespro dan mengajarkan berpikir untuk menyelesaikan masalah kespro yang muncul pada diri sendiri, teman, dan lingkungan dimana dia berada. Remaja yang belajar dalam program akselerasi mempunyai kemampuan intelektual, krearivitas dan komitmen terhadap tugas yang tinggi atau lebih dikenal dengan siswa cerdas istimewa (CI). Kemampuan ini dapat digunakan sebagai dasar untuk mengembangkan keterampilan berfikir tingkat tinggi sehingga remaja menemukan penyelesaian yang baik dan benar terhadap problem kespro. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan kemampuan berpikir tingkat tinggi dan problem solving kesehatan reproduksi siswa CI.

 

Kesehatan Reproduksi

WHO mendefinisikan kesehatan re­produksi sebagai keadaan sejahtera secara fisik, mental dan sosial yang bukan karena ketiadaan penyakit dan kecacatan, yang berkaitan dengan sistem, fungsi dan proses-prosesnya (Sadli, dkk. 2006). Dari definisi itu nampak bahwa masalah kesehatan reproduksi adalah masalah yang menyeluruh, luas dan saling terkait. Kesehatan reproduksi harus dipahami dan dijabarkan sebagai siklus kehidupan (life cycle) mulai dari konsepsi sampai mengalami menopause dan menjadi tua. Hal ini berarti menyangkut kesehatan balita, anak, remaja, ibu usia subur, ibu hamil dan menyusui, dan ibu yang me­nopause. Setiap tahap dalam siklus kehidupan itu memiliki keunikan permasalahan masing-masing, namun juga saling terkait dengan tahap lainnya. Ada banyak faktor yang mempengaruhi kesehatan reproduksi dalam siklus itu, di antaranya kemiskinan, status sosial yang rendah, diskriminasi, ku­rangnya pelayanan dan pemeliharaan ke­sehatan, pendidikan yang rendah, dan kehamilan usia muda. Setiap faktor akan membawa dampak bagi kesehatan repro­duksi, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Berfikir Tingkat Tinggi

            Ada beberapa definisi berfikir tingkat tinggi , Vui, 2001 (dalam Rosnawati, 2009) menjelaskan bahwa berfikir tingkat tinggi  terjadi pada saat individu mengaitkan informasi yang baru dengan informasi yang tersimpan dalam memori, menghubung, menata ulang dan mengembangkan informasi tersebut untuk mencapai tujuan atau menyelesaikan masalah.  Thomas dan Thorne (2005) menyatakan bahwa “Higher order thinking is thinking on higher level that memorizing facts or telling something back to sameone exactly the way the it was told to you. When a person memorizies and gives back the informatio without having to think about it. That’s because it’s much like arobot; it does what it’s programmed to do, but it doesn’t think for itself”. Thomas dan Thorne berpendapat bahwa kemampuan berpikir tingkat tinggi merupakan keterampilan yang dapat dilatihkan.

Berbasis kepada Taksonomi Bloom, terdapat tiga aspek dalam ranah kognitif yang menjadi bagian dari kemampuan berpikir tingkat tinggi atau higher-order thinking. Ketiga aspek itu adalah aspek analisa, aspek evaluasi dan aspek mencipta. Sedang tiga aspek lain dalam ranah yang sama, yaitu aspek mengingat, aspek memahami, dan aspek aplikasi, masuk dalam bagian intilektual berpikir tingkat rendah atau lower-order thinking (Munandar, 1999). Berfikir tingkat tinggi mempunyai karakteristik (Resnick, 1987), yaitu: non algorithmic, kompleks, self regulative, penuh makna, penuh usaha, menyediakan banyak solusi, bernuansa penilaian (nuanced judgment), dan tidak pasti.

Berfikir tingkat tinggi adalah satu komponen dari keterampilan berfikir kreatif dan berfikir kritis. Berfikir kreatif dapat mengembangkan individu menjadi lebih inovatif, mempunyai kreativitas yang baik, ideal dan imajinatif. Ketika individu tahu bagaimana menggunakan kedua keterampilan tersebut, ini artinya individu mempraktikan berfikir tingkat tinggi . Semua individu dapat berpikir tetapi sebagian besar mereka membutuhkan dukungan, guru, dan pendampingan untuk berproses berpikir tingkat yang lebih tinggi. Berfikir tingkat tinggi dapat diajarkan dan dipelajari. Semua individu mempunyai hak untuk mempelajari dan menerapkan keterampilan berpikir seperti disiplin pengetahuan yang lain.

Rosnawati (2009) menyebutkan ada enam tahapan aktivitas yang harus dilalui agar dapat mengembangkan berpikir tingkat tinggi yaitu: 1) menggali informasi yang dibutuhkan; 2) mengajukan dugaan; 3) melakukan inkuiri; 4) membuat konjektur ;5) mencari alternatif ;6) menarik kesimpulan

Problem Solving

Problem solving adalah suatu proses mental dan intelektual dalam menemukan masalah dan memecahkan berdasarkan data dan informasi yang akurat, sehingga dapat diambil kesimpulan yang tepat dan cermat (Hamalik, 1994, dalam Yasin, 2009). Problem solving yaitu suatu  pendekatan dengan cara identifikasi problem untuk dilanjutkan ketahap sintesis kemudian dianalisis dengan pemilahan seluruh masalah sehingga mencapai tahap aplikasi selajutnya pada tahap komprehensif untuk mendapatkan solution dalam penyelesaian masalah tersebut.  Pendapat lain problem solving adalah suatu pendekatan dimana langkah-langkah berikutnya sampai penyelesaian akhir lebih bersifat kuantitatif yang umum sedangkan langkah-langkah berikutnya sampai dengan penyelesaian akhir lebih bersifat kuantitatif dan spesifik (dalam Yasin, 2009). Sedangkan Edward (2007) menjelaskan bahwa problem solving merupakan suatu proses kognitif yang diterapkan saat mengatasi permasalahan untuk meraih suatu tujuan. Jadi problem solving adalah proses kognitif yang berfungsi untuk menemukan dan memecahkan masalah melalui proses sintesis, analisis dan bersifat komprehensif.

Berpikir memecahkan masalah dan menghasilkan sesuatu yang baru adalah kegiatan yang kompleks dan berhubungan erat satu dengan yang lain. Suatu masalah umumnya tidak dapat dipecahkan tanpa berpikir, dan banyak masalah memerlukan pemecahan yang baru bagi orang-orang atau kelompok. Sebaliknya, menghasilkan sesuatu (benda-benda, gagasan-gagasan) yang baru bagi seseorang, menciptakan sesuatu, itu mencakup problem solving. Ini berarti informasi fakta dan konsep-konsep itu  penting. Seperti telah kita ketahui, penguasaan informasi itu perlu untuk memperoleh konsep; keduanya itu harus diingat dan dipertimbangkan dalam problem solving dan perbuatan kreatif. Begitu pula perkembangan intelektual sangat penting dalam problem solving (Slameto, 1990 : 139).

Dengan demikian  problem solving merupakan  suatu  proses taraf yang dilalui dengan cara memahami sejumlah pengetahuan dan ketrampilan kerja dan merupakan hasil yang dicapai individu setelah individu yang bersangkutan mengalami suatu proses belajar problem solving yang diajarkan suatu pengetahua tertentu. Dengan problem solving suatu masalah akan mempunyai banyak  solusi dan  kesimpulan yang diambil lebih realistik (Lawson, 1991, dalam Yasin, 2009)

Yasin (2009) berpendapat bahwa ada tiga langkah untuk problem solving, yaitu: mengidentifikasi masalah, menentukan sumber dan akar masalah, dan mencari solusi yang efektif dan efisien. Adapun langkah-langkah lain yaitu menurut konsep Dewey (dalam Yasin, 2009) yang menjadikan berpikir sebagai dasar untuk problem solving  adalah sebagai berikut: 1) adanya kesulitan yang dirasakan atau kesadaran akan adanya masalah. 2) masalah itu diperjelas dan dibatasi. 3) mencari informasi atau data dan kemudian data itu diorganisasikan atau diklasifikasikan. 4) mencari hubungan-hubungan untuk merumuskan hipotesa-hipotesa kemudian hipotesa-hipotesa dinilai, diuji agar dapat ditentukan untuk diterima atau ditolak. 5) penerapan pemecahan terhadap masalah yang dihadapi sekaligus berlaku sebagai pengujian kebenaran pemecahan tersebut untuk dapat sampai kepada kesimpulan. Langkah-langkah dalam problem solving ini tidak selalu mengikuti urutan yang teratur, melainkan dapat meloncat-meloncat antara macam-macam lankah tersebut, lebih-lebih apabila orang berusaha memecahkan masalah yang kompleks.

Williams dan Carey (2003) menjelaskan ada enam langkah problem solving yaitu identifikasi masalah, mencari informasi dan menetapkan tujuan, menemukan berbagai akternatif solusi, memilih solusi, menyiapkan pelaksanaan solusi yang dipilih, dan mengevalusi dan merevisi solusi. Jadi proses problem solving dimulai dari mengidentifikasi masalah terlebih dahulu, dilanjutkan mencari penyebab munculnya masalah dan diakhiri dengan mencari berbagai alternatif solusi yang dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah.

Ada beberapa hal yang mempengaruhi problem solving, seperti: motivasi, kepercayaan dan sikap yang salah, kebiasaan dan emosi (Rahmat (2001). Ahli yang lain berpendapat bahwa problem solving dipengaruhi kemampuan kognitif atau kecerdasan (Rahmat, 2001 dan Sheryl, 2012), pengasuhan orang tua dan kurikulum yang dikembangkan guru di sekolah (Nair & Ngang, 2012)

Berfikir Tingkat Tinggi dan Problem Solving

Dalam taksonomi Bloom berfikir tingkat tinggi terjadi pada tahap sintesis, analisis, evaluasi dan kreativitas. Proses ini terjadi pada ranah kognitif dimana individu akan mengaitkan informasi yang baru dengan informasi yang tersimpan dalam memori, menghubung, menata ulang dan mengembangkan informasi tersebut untuk mencapai tujuan atau menyelesaikan masalah. Proses dalam berfikir tingkat tinggi ini akan membantu individu dalam memecahkan masalah. Dalam memecahkan masalah karena akan terjadi proses mengidentifikasi masalah terlebih dahulu, dilanjutkan mencari penyebab munculnya masalah dan diakhiri dengan mencari berbagai alternatif solusi yang dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah. Jadi ada hubungan yang positif antara kemampuan berfikir tingkat tinggi dan kemampuan problem solving.

Remaja

Menurut Santrock (2003), remaja (adolescence) diartikan sebagai masa perkembangan transisi antara masa anak dan masa dewasa yang mencakup perubahan biologis, kognitif dan sosial-emosional. Masa remaja dimulai kira-kira usia 10 sampai 13 tahun dan berakhir antara usia 18 sampai 22 tahun. Thornburgh  (1982 dalam Pertiwi, ) membagi usia remaja menjadi tiga kelompok, yaitu: 1) remaja awal antara 11-13 tahun, 2) remaja pertengahan antara 14-16 tahun,dan 3) remaja akhir antara 17-19 tahun.

Perubahan biologis, kognitif dan sosial-emosional yang terjadi berkaitan erat dengan perkembangan fungsi sek­sual, proses berfikir abstrak dan kemandirian. Masa transisi ini adalah hal yang sulit bagi remaja, dimana proses perubahan di dalam tubuh sedang berlangsung. Perubahan-perubahan fisik (meliputi penampilan fisik seperti bentuk tubuh dan proporsi tubuh) dan fungsi fisiologis (kematangan organ-organ seksual). Perubahan fisik yang terjadi pada masa pubertas ini merupakan peristiwa yang paling penting, berlangsung cepat, drastis, tidak beraturan dan bermuara dari perubahan pada sistem reproduksi. Hormon-hormon mulai diproduksi dan mempengaruhi organ reproduksi untuk memulai siklus reproduksi serta mempengaruhi terjadinya perubahan tubuh. Perubahan tubuh ini disertai dengan perkembangan bertahap dari karakteristik seksual primer dan karakteristik seksual sekunder. Karakteristik seksual primer mencakup perkembangan organ-organ reproduksi, sedangkan karakteristik seksual sekunder mencakup perubahan dalam bentuk tubuh sesuai dengan jenis kelamin misalnya, pada remaja putri ditandai dengan menarche (menstruasi pertama), tumbuhnya rambut-rambut pubis, pembesaran buah dada, pinggul, sedangkan pada remaja putra mengalami pollutio (mimpi basah pertama), pembesaran suara, tumbuh rambut-rambut.

Pada masa pubertas, hormon-hormon yang mulai berfungsi selain menyebabkan perubahan fisik/tubuh juga mempengaruhi dorongan seks remaja. Remaja mulai merasakan dengan jelas meningkatnya dorongan seks dalam dirinya, misalnya muncul ketertarikan dengan orang lain dan keinginan untuk mendapatkan kepuasan seksual. Kematangan organ reproduksi dan perkembangan psikologis remaja yang mulai menyukai lawan jenisnya serta arus media informasi baik elektronik maupun non elektronik akan sangat berpengaruh terhadap perilaku seksual individu remaja tersebut. Sebagai akibat proses kematangan sistem reproduksi ini, seorang remaja sudah dapat menjalankan fungsi prokreasinya, artinya sudah dapat mempunyai keturunan.

Pertumbuhan berat dan tinggi badan juga mengikuti perkembangan kematangan seksual remaja. Anak remaja putri mengalami pacu tumbuh (penambahan TB dan BB3 dengan cepat) sebelum timbulnya tanda seks sekunder, pada usia rata-rata 8-9 tahun, sedangkan menarche terjadi rata-rata pada usia 12 tahun. Pada anak remaja putra, pacu tumbuh mulai terjadi sedikit lebih lambat pada usia sekitar 10-11 tahun, sedangkan perubahan suara terjadi pada usia 13 tahun. Penyebab terjadi makin awalnya tanda-tanda pertumbuhan ini diperkirakan karena faktor gizi yang semakin baik, rangsangan dari lingkungan, iklim, dan faktor sosio-ekonomi.

Perubahan fisik yang terjadi pada masa pubertas adalah akibat meningkatnya kadar hormone kelamin (sex hormones) yang diproduksi gonad dan kelenjar adrenal. Kelenjar ini dirangsang oleh hormone gonadotropin dari kelenjar hipofisis, yang distimulasi oleh rangsangan hormone GNRH dari hypothalamus, yang baru dilepaskan setelah tercapai kematangan tubuh anak. pubis, tumbuh rambut pada bagian tertentu seperti di dada, di kaki, kumis dan sebagainya.

Ketika memasuki masa pubertas, setiap anak telah mempunyai sistem kepribadian yang merupakan pembentukan dari perkembangan selama ini. Di luar sistem kepribadian anak seperti perkembangan ilmu pengetahuan dan informasi, pengaruh media massa, keluarga, sekolah, teman sebaya, budaya, agama, nilai dan norma masyarakat tidak dapat diabaikan dalam proses pembentukan kepribadian tersebut. Pada masa remaja, seringkali berbagai faktor penunjang ini dapat saling mendukung dan dapat saling berbenturan nilai.

Masa remaja merupakan masa yang penuh gejolak, (suasana hati) bisa berubah dengan sangat cepat. Hasil penelitian menemukan bahwa remaja rata-rata memerlukan hanya 45 menit untuk berubah dari mood “senang luar biasa” ke “sedih luar biasa”, sementara orang dewasa memerlukan beberapa jam untuk hal yang sama. Perubahan mood (swing) yang drastis pada para remaja ini seringkali dikarenakan beban pekerjaan rumah, pekerjaan sekolah, atau kegiatan sehari-hari di rumah. Meski mood remaja yang mudah berubah-ubah dengan cepat, hal tersebut belum tentu merupakan gejala atau masalah psikologis. Dalam hal kesadaran diri, pada masa remaja para remaja mengalami perubahan yang dramatis dalam kesadaran diri mereka (self-awareness). Mereka sangat rentan terhadap pendapat orang lain yag membuat remaja sangat memperhatikan diri mereka dan citra yang direfleksikan (self-image). Pada usia 16 tahun ke atas, keeksentrikan remaja akan berkurang dengan sendirinya jika ia sering dihadapkan dengan dunia nyata.

Adanya perubahan psikologis pada remaja dipengaruhi oleh pergaulan di lingkungan. Perubahan-perubahan ini membuat kehidupan remaja menjadi sulit dan rawan. Seiring perkembangan biologis, mereka harus menghadapi tekanan-tekanan emosi dan so­sial yang saling bertentangan.

Dalam kondisi yang penuh tekanan ini remaja harus menyiapkan diri agar menjadi individu dewasa. Berbagai tugas yang harus diselesaikan pada masa remaja ini dikenal dengan tugas perkembangan remaja.

Siswa Cerdas Istimewa

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dalam ayat 4 menjelaskan bahwa warga negara yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa berhak memperoleh pendidikan khusus. Layanan pendidikan khusus bagi siswa cerdas istimewa terwujud melalui kurikulum terdiferensiasi pada program kelas akselerasi. Program ini dimulai sejak tahun 2000 khususnya bagi siswa cerdas istimewa (gifted). Siswa yang belajar pada program akselerasi disyaratkan mempunyai IQ minimal 130 (Skala Weschler), kreativitas dan komitmen terhadap tugas di atas rata-rata. Dengan kriteria itu diharapkan siswa cerdas istimewa yang belajar pada program akselerasi diharapkan  dapat mencapai prestasi yang optimal sesuai dengan potensi yang dimilikinya.

Kelas akselerasi mempunyai kurikulum yang berbeda dengan kelas regular.  Meier (2002, dalam  Nurbayani, 2013) menulis beberapa prinsip pokok akselerasi pembelajaran, yaitu: 1) adanya keterlibatan total pembelajar dalam meningkatkan pembelajaran, 2) belajar bukanlah mengumpulkan informasi secara pasif, melainkan menciptakan pengetahuan secara aktif, 3) Kerja sama diantara pembelajar sangat membantu meningkatkan hasil belajar, 4) Belajar berpusat aktivitas sering lebih berhasil daripada belajar berpusat  presentasi, 5) Belajar berpusat aktivitas dapat dirancang dalam waktu yang jauh lebih singkat daripada waktu yang diperlukan untuk merancang pengajaran  dengan presentasi. Desain kurikulum ini dikembangkan sesuai dengan potensi kognitif, afektif dan motorik yang dimiliki siswa CI.

 

METODE PENELITIAN

            Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif. Proses penelitian dimulai dari fakta dilapangan, melakukan kajian teori, menyusun instrument (kuesioner), mengambil data, menganalis data dan menarik kesimpulan. Berdasarkan kajian terhadap teori, hipotesa penelitian ini adalah ada hubungan kemampuan berpikir tingkat tinggi dan problem solving kesehatan reproduksi siswa cerdas istimewa. Data yang diperoleh dianalisis dengan teknik korelasi product moment. Subyek penelitian ini adalah siswa CI program akselerasi pada tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) di kota Sidoarjo Jawa Timur dan berjumlah 30 orang, yaitu kelas VII dan kelas IX. Kriteria subyek penelitian adalah berumur 12-15 tahun yang merupakan remaja awal.

Kuesioner yang digunakan tentang berpikir tingkat tinggi dan problem solving. Kuesioner berfikir tingkat tinggi berupa artikel tentang HIV/AIDS pada remaja dan siswa CI diminta untuk menganalisis, mensintesa, dan mengevaluasi artikel tersebut. Kuesioner problem solving berupa soal-soal tentang problem kesehatan reproduksi pada remaja. Siswa CI diminta memberikan berbagai alternatif solusi untuk problem kespro terbut.

HASIL PENELITIAN & DISKUSI

Hasil penelitian menunjukan adanya hubungan positif (r = 0,245) antara kemampuan berpikir tingkat tinggi dan problem solving kesehatan reproduksi. Nilai korelasi antara berfikir tingkat tinggi dan problem solving kespro hanya 0,245, namun tetap menunjukkan adanya hubungan yang positif. Jumlah subyek yang hanya 30 orang dan tingginya homogenitas subyek  kemungkinan berkontribusi terhadap nilai korelasinya.

Penelitian ini membuktikan bahwa semakin tinggi kemampuan berfikir tinggi pada individu semakin tinggi pula kemampuan problem solvingnya. Siswa CI mempunyai kemampuan kognitif yang tinggi menjadi dasar untuk melakukan aktifitas berfikir tingkat tinggi dan melakukan problem solving pada berbagai hal termasuk dalam dalam problem kesehatan reproduksi. Namun perlu diperhatikan bahwa kemampuan berfikir tingkat tinggi dan problem solving bukan kemampuan  yang bersifat alami, kemampuan ini diperoleh dari proses belajar (Thomas dan Thorne , 2005). Pengasuhan dari orang tua dan desain pembelajaran yang dikembangkan oleh guru juga mempengaruhi kemampuan ini.

Kurikulum kelas akselerasi merupakan kurikulum terdiferensiasi, kurikulum yang didesain memenuhi kebutuhan kecerdasan siswa CI. Kurikulum kelas akselerasi membutuhkan kemampuan berfikir tingkat tinggi untuk menyelesaikan materi pelajaran yang dipadatkan dan harus diselesaikan dalam waktu yang lebih cepat. Dengan demikian siswa CI lebih sering menggunakan kemampuan analisis, sintesis, dan evaluasi dalam proses belajar. Hal ini akan mendorong siswa melakukan aktivitas problem solving dalam aktivitas belajarnya.

Kesehatan reproduksi adalah aktivitas yang melibatkan individu karena kespro secara alami ada di dalam diri setiap individu. Siswa CI dengan kemampuan yang tinggi diharapkan akan menyelesaikan problem kespro lebih baik daripada siswa lain dengan kemampuan yang lebih rendah. Tentu dengan bimbingan orang tua dan guru (Nair & Ngang, 2012).

Berdasarkan hasil penelitian yang menunjukkan adanya hubungan positif antara kemampuan berfikir tingkat tinggi dan problem solving kesehatan reproduksi maka disarankan agar siswa CI yang mempunyai kemampuan berpikir tingkat tinggi dan mampu melakukan problem solving kesehatan reproduksi menjadi tutor sebaya bagi remaja seusianya.

  

Daftar Pustaka

Buckley , S. 2012. The Role of Computational Thinking and Critical Thinking

in Problem Solving in a Learning Environment (online) (http://e-resources.pnri.go.id:2061)

 

Edward. 2007 dalam http://repository.maranatha.edu/2322/3/0710147_Chapter1.pdf diakses 7 November 2014

 

Munandar, U. 1999. Kreativitas & Keberbakatan, Strategi Mewujudkan Potensi Kreatif & Bakat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Nair, S. & Ngang, T.K. 2012. Exploring Parents’ and Teachers’ Views of Primary Pupils’

Thinking Skills and Problem Solving Skills. Creative Education  Vol.3, No.1, 30-36 Published Online February 2012 in SciRes http://www.Sci. RP.org/journal (online) (http://e-resources.pnri.go.id/library.php?id=00001)

Nurbayani, S. 2013. Program Percepatan Kelas (Akselerasi) bagi Siswa Yang Memiliki Kemampuan Unggul (Sebuah Inovasi dalam pelaksanaan pendidikan di persekolahan) (online)(http://file.upi.edu/Direktori/FPIPS/M_K_D_U/197007111994032-SITI_NURBAYANI_K/Karya/Inovasi_dalam_pelaksanaan_pendidikan.pdf )

 

Pertiwi, K.R. Kesehatan Reproduksi Remaja dan Permasalahannya. Yogyakarta: Jurusan Pendidikan Biologi FMIPA UNY. Dalam (Online), (http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/tmp/PPM%20PEER%20KRR.pdf) diakses 30 Oktober 2014

Posamentier, A.S. 1998. Problem Solving Strategies for Efficient and Ellegant Solutions, A Resource for Mathematics Teacher. California: Corwin Press, Inc.

Rosnawati, R. 2009. Enam Tahapan Aktivitas dalam Pembelajaran Matematika untuk Mendayagunakan Berfikir Tingkat Tinggi Siswa. Dalam (Online) (http://webcache.googleusercontent.com/search?q=cache:8vZU5flUkaQJ:staff.uny.ac.id/sites/default/files/penelitian/R.%2520Rosnawati,%2520Dra.%2520 )

Sadli, S; A.Rahman; A. Habsjah. 2006. Implementasi Pasal 12 Undang-undang Nomor 7 tahun 1984, Pe­layanan Kehamilan, Persalinan dan Pasca Persalinan. Yogyakarta: Surviva Paski Kelompok Kerja Convention Watch Universitas Indonesia. Dalam (online), (http://www.esaunggul.ac.id) diakses 30 Oktober 2014

Santrock, J.W. 2003. Adolescence, Perkembangan Remaja. Terjemahan Adelar, S.B. & Saragih,S., Jakarta: Penerbit Erlangga. Dalam (online), (http://www.esaunggul.ac.id) diakses 30 Oktober 2014

Williams, D.A.  & Carey, M. 2003. Solving The Problems of A Chronic Illness: 6-step problem solving. Dalam (online) (http://www.med.umich.edu/painresearch/patients/Problem%20Solving.pdf) diakses 31 Oktober 2014

Yasin, S. 2009. Pengertian Problem Solving. Dalam (online) (http://www.sarjanaku.com/2011/03/pengertian-problem-solving.html) diakses 31 Oktober 2014